Kamis, 07 Februari 2013

Gaya Bahasa Jinas Dalam Asas al-Balaghah Karya al-Zamakhsyari


Gaya Bahasa Jinas Dalam Asas al-Balaghah
Karya al-Zamakhsyari
Muhyiddin

Pengantar
            Sejarah mencatat bahwa orang yang pertama kali merumuskan ilmu Balaghah menjadi tiga bagian penting yang berbeda (bayan-ma’ani-badi’) dan tidak terpisahkan adalah Abi Yakub Yusuf al-Sakkaki (656 H.).[1] Seiring dengan berkembangnya zaman, pembidangan ilmu Balaghah yang terdiri dari tiga komponen di atas menjadi sebuah kajian tersendiri (independent) dilakukan di masa Badru al-Din Bin Malik al-Jayani (686 H.).[2] Hal tersebut dilakukan karena semakin spesifik sekaligus meluasnya cakupan materi yang terdapat dalamnya.
            Ilmu Balaghah, dinamakan juga ilmu qawaid al-uslub atau stilistik ta’limi, merupakan satu cabang ilmu Bahasa Arab yang mempelajari kaidah-kaidah mengenai gaya bahasa atau uslub untuk dipergunakan dalam pembicaraan atau tulisan. Ilmu Balaghah meliputi tiga bidang ilmu, diantaranya: ilmu Bayan; membahas tentang bagaimana cara menyusun redaksi kalimat dengan berbagai macam model dengan maksud suatu pengertian tertentu. Ilmu Ma’ani; membahas tentang bagaimana cara menyusun kalimat dengan menyesuaikan keadaan tertentu (muqtadha al-hal). Ilmu Badi’; membahas aspek keindahan dari suatu kata baik itu dari segi lahir (lafad) maupun batin (makna)-nya.[3]
            Karena cakupan ilmu Balaghah yang begitu luas, maka dalam makalah berikut ini, penulis akan memaparkan dengan mempersempit area kajian. Fokus kajian yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tentang pembagian dan macam-macam gaya bahasa Jinas dalam Asas al-Balaghah karya al-Zamakhsyari. Sebelum berbicara tentang “Gaya Bahasa Jinas dalam Asas al-Balaghah karya al-Zamakhsyari”, penulis di sini akan menjelaskan terlebih dahulu sekilas biografi al-Zamakhsyari dan karya-karyanya, kemudian dilanjutkan dengan peta konsep kajian Jinas dalam ilmu Balaghah. Setelah itu, penulis akan menjelaskan sedikit banyak tentang macam-macam Gaya Bahasa Jinas.
  1. Skilas Biografi Zamakhsyari dan Karyanya[4]
Nama lengkap al-Zamakhsyari adalah Abu al-Qasim Jarullah Mahmud bin Umar al-Zamakhsyari al-Kahawarizmi. Ia lahir di Khawarizm, yang sekarang masuk dalam negara Uzbekistan bagian dari Uni Soviet, pada tahun (467-538/1075-1145) pada masa kejayaan Dinasti Saljuq-Iraq (di Bawah Sultan Malik Syah [1070-1092] dan Wazir Nizham al-Mulk) hingga awal kemundurannya (di bawah Sinjar bin Malik Syah [1117-1157]). Pada masa ini berdiri Universitas Nizhamiyah dengan al-Ghazali (w. 5050/1111) sebagai salah seorang guru besarnya, madrasah-madrasah Hanafiyah, sekitar 12 ribu perpustakaan yang masing-masing memuat 12 ribu eksemplar dalam berbagai disiplin keilmuwan, dan mendirikan observatorium di mana Sultan menyelenggarakan konferensi astronomi (468/1075) atas permintaan Wazir untuk memperbaharui kalender Persia, yang pada masa itu juga mencuat nama Umar Khayyam (w. 1132).
Al-Zamakhsyari untuk pertama kalinya belajar kepada Muhamamd bin Jarir al-Dhabi al-Ashfahani Abu Mudhar al-Nahwi (w. 507), seorang Ahli bahasa dan nahwu terkenal di zamannya, yang berbudi luhur dan berhasil menyebarkan mazhab Muktazilah di Khawarizm. Dengan bekal ambisi, ia pergi ke Khurasan dan Isfahan. Ia mendekati para pemegang kekuasaan seperti Muji al-Daulah Ubaidillah bin Nizham al-Mulk, dan Muhammad bin Malik Syah dengan memberikan bait-bait syair pujian. Namun, ia gagal dan sekitar tahun 512 ia sakit parah.
Sejak itu ia berganti haluan ke bidang keilmuan. Ia pergi ke Baghdad, belajar hadits kepada Abu al-Khitab bin al-Batar, Abu Sa’d al-Syafani, dan Syaikh Islam Abu Manshur al-Haritsi, belajar Fiqh kepada al-Damghani (Hanafi) dan Ibn al-Syajari. Untuk menghilangkan rasa bersalahnya karena berambisi mengejar kekuasaan, ia pergi ke Makkah dan bertemu dengan seorang pemuka Alawi bin Isa bin Hamzah bin Wahhas, dan membaca kitab Sibawaih atas bimbingan Abdullah bin Talhah al-Yabiri (w.518).
Setelah usahanya kembali untuk mendekati penguasa gagal, al-Zamakhsyari kembali ke daerahnya. Saat itu Muhammad Anushtikin yang digelari Khawarizm Syah (mantan kepala daerah Khawarizm, w. 521) telah mendirikan rumah raja (Sultan Sinjar) yang kemudian mengukuhkannya sebagai kepala daerah Khawarizm hingga meninggal dan digantikan anaknya Astaz (w. 551). Kecintaan keduanya kepada ilmu membuat al-Zamakhsyari dapat berada di dekatnya, sehingga mempunyai kesempatan besar untuk menulis dan menerbitkan karya-karyanya. Karya-karyanya itu kebanyakan dalam bidang bahasa, sastra, dan gramatika (sehingga layak untuk disebut pakar bidang ini) di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Bidang Bahasa dan Sastra:
Samin al-Arabiyyah, Asas al-Balaghah, Jawahir al-Lughah, al-Ajnas, Muqadimah al-Adab fi al-Lughah, al-Asma fi al-Lughah, al-Qistas fi al-Arudh, Sawa’ir al-Amstal, al-Mustaqshi fi al-Amstal, A’jab al-‘Ajab fî Syarh Lamiyyah al-Arab, Diwan al-Adab, Rabi al-Abrar fi al-Adab wa al-Muhadharat, Tasliyah al-Dhari, Diwan Khuthab, Diwan al-Rasa’il, Diwan Syi’r.
  1. Bidang Nahwu:
Nukat al-A’rab fi Gharib al-I’rab fi Gharib al-Qur’an, al-Namudzaj fi ‘Ilm al-Arabiyyah, al-Mufassal, al-Mufrad wa al-Mu’allaf fi al-Masa’il al-Nahwiyyah, al-Amali, Hasyiah ‘ala al-Mufassal, Syarh al-Mufassal, Syarh Kitab Sibawaih, al-Nahajjat wa Mutmim Maham Arbab al-Hajat fi al-Ahaji wa al-Alghaz, al-Mufrad wa al-Murakkab.
  1. Bidang Hadits:
 al-Faiq fi Gharib al-Hadits, Mukhtashar al-Muwafaqat Baina Ahl al-Bait wa as-Shahabah, Khasaish al-Asyarah al-Kiram al-Bararah.
  1. Bidang Fiqh dan Usul:
al-Ra’d fi al-Faraid dan al-Minhaj.
  1. Dalam bidang ilmu geografi;
al-Amkinah wa al-Jibal, wa al-Miyah
  1. Lain-lain:
Syaqa’iq al-Nu’man fi Haqa’iq al-Nu’man (manakib Imam Hanafi), Nawabigh al-Kalim, Atwaq al-Zahab, Nasha’ih al-Kubbar, Nasha’ih al-Sihar, Maqamat, al-Risalah al-Nashihah (tentang nasihat dan pepatah).
Kepakarannya dalam Bahasa, sastra, dan gramatika (di samping ilmu lain), membuat menjadi rujukan rekan-rekan semazhabnya (afadil al-najiyah al-‘adiyyah), terutama dalam penerapannya terhadap penafsiran al-Qur’an. Mereka sering dibuat kagum dengan pelajaran al-Zamakhsyari sehingga sepakat mengusulkan agar ia mendiktekan al-Kasysyaf ‘an Haqa‘iq al-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta’wil.
Akan tetapi, hal ini hanya berlangsung hingga penafsiran surat al-Baqarah, karena saat itu ia berkeinginan untuk mengunjungi Baitullah. Di perjalanan ia mendapatkan banyak orang yang sangat menginginkan tafsiran-tafsirannya. Sehingga ia berketetapan untuk menyelesaikan tafsirnya di Baitullah. al-Zamakhsyariy meninggal dunia di malam Arafah pada tahun 538 H. di Jurjaniah, Khuwarizm setelah kembali dari Mekkah.
Sekilas Kitab Asas al-Balaghah
Kitab ini adalah kamus Balaghah pertama karya Abu Qasim Jarullah Mahmud bin Umar Az-Zamakhsyari (538H/1144M). Kitab “Asas al-Balaghah” ini adalah kamus praktis yang indah dan bagus bahasanya dibanding kamus-kamus Arab lainnya, karena penyusunnya sangat menguasai bahasa dan ilmu tafsir.
Dalam materi kamus tersebut, al-Zamakhsyari memaparkan makna-makna hakikat suatu kalimah, tetapi yang dia tekankan adalah mengarah pada penjelasan mengenai penggunaan kalimah yang bersifat majazi (metafora). Asas al-Balagah disusun oleh al-Zamakhsyari di masa tuanya sebelum meninggal setelah menyelesaikan bukunya yang terkenal di bidang tafsir yaitu al-Kasysyaf (526-528 H.).[5]  
  1. Peta Konsep Kajian Jinas dalam Ilmu Balaghah dan Linguistik Umum
            Pada mulanya ilmu Balaghah dikembangkan oleh Abdullah Bin al-Mu’taz (w 296 H), al-Jahiz (w 255/868 M), Abu Hilal al-Askari (w 395 H), Ibnu Rasiq al-Qairawani (w 403 H), dan disempurnakan Abdul Qahir al-Jurjani (400-471 H).[6]
            Secara etimologi, balaghah berarti sampai atau ujung. Sedangkan secara terminologi, balaghah berarti sampainya maksud hati atau pikiran yang ingin diungkapkan kepada lawan dialog, karena bahasa yang digunakan adalah bahasa yang benar, jelas, berpengaruh terhadap rasa atau pikiran audiens lewat diksinya yang tepat, dan juga sesuai dengan situasi dan kondisi audiens. Dalam ungkapan lain, balaghah adalah kesuaian ucapan atau tulisan dengan keharusan situasi atau realitas dialog, di mana kata dan kalimat yang digunakan fasih (jelas), memuaskan, mempesona, bahkan menyihir audiens sehingga maksud hati atau pikiran yang ingin diungkapkan kepada lawan dialog sampai secara efektif.[7]
            Sebagai sebuah disiplin ilmu, balaghah meliputi tiga bidang (ma’ani-bayan-badi’). Namun penyebutan balaghah untuk ketiganya baru terjadi ketika al-Sakkaki pada tahun 626 H (sekitar abad ke-13 M) menulis buku Miftah al-Ulum. Sebelumnya (pada abad ke-5 Hijriyah, atau tepatnya tahun 471 H), ketika al-Jurjani (400-471 H) menulis Asrar al-Balaghah dan Dalail al-I’jaz, kata balaghah digunakan hanya untuk menunjuk ilmu Bayan dan Badi’ saja. Sebagian ahli masa klasik sebelumnya lagi bahkan menyebut ketiganya itu, bukan dengan sebutan balaghah, tetapi ilmu Bayan.[8]
            Yang dimaksud dengan Ma’ani adalah bagian dari ilmu Balaghah yang bertujuan agar pengkajiannya terhindar dari kekeliruan dalam pengungkapan makna kata yang dikehendaki. Sementara yang dimaksud Bayan (bagian kedua objek pembahasan balaghah) adalah bagian dari balaghah yang membahas cara pengungkapan satu makna lewat berbagai ragam kalimat, tetapi maksud yang ingin disampaikan jelas. Tujuannya, agar pengkaji bayan terhindar dari ketidakjelasan maksud yang diucapkan. Terakhir objek kajian balaghah adalah Badi’, yaitu bagian ilmu Balaghah yang membahas dekorasi ucapan dan makna.[9]
Dalam buku yang berjudul “Ilmu Balaghah Antara al-Bayan Dan al-Badi’[10] dijelaskan al-badi’ secara etimologi berarti menciptakan dengan tidak ada sebelumnya, lafad al-badi’ berasal dari akar kata ‘bada’a’, ‘abda’a al-syaia’ yang berarti ‘ikhtara’ahu’ membuat dengan tidak ada contoh sebelumnya. Kata ‘al-badi’ juga bermakna isim fa’il (yang melakukan pekerjaan) berdasar pada firman Allah al-Baqarah: 117, al-An’am: 101 yang berbunyi ‘badi’u al-samawati wa al-ardhi’ (Allah yang menciptakan langit dan bumi). Adapun menurut istilah, ilmu Badi’ adalah ilmu yang dengan ilmu itu seseorang dapat mengetahui aspek-aspek keindahan serta kelebihan-kelebihan suatu kalimat, hingga kalimat tersebut bertambah indah, dan sesuai dengan keadaan tentunya (muqtadha al-hal).
Menurut pengertian yang terdapat dari buku “Mu’jam al-Musthalahat al-Arabiyah Fi al-Lughah Wa al-Adab” karangan Majdi Wahbah dan Kamil Muhandis, seperti yang dikutip oleh Marjoko Idris dalam bukunya,[11] ilmu Badi’ diberi pengertian sebagai ilmu yang dengannya seseorang dapat mempercantik atau memperindah lafad atau makna dari sebuah kalimat dengan berbagai macam bentuk keindahan. Sedangkan dalam buku “Kitab Qawaid Al-Lughah Al-Arabiyah” yang ditulis oleh Hifni Bik Nashif, ilmu Badi’ didefinisikan sebagi ilmu untuk mengetahui aspek-aspek keindahan sebuah kalimat yang sesuai dengan keadaan, jika aspek-aspek keindahan itu pada makna, maka dinamakan dengan ‘muhassinat al-maknawiyah’. Dan apabila aspek keindahan itu berada pada lafad, maka dinamakan dengan ‘muhassinat al-lafdziyah’. Dengan begitu, dapat ditarik benang merahnya bahwa ilmu Badi’ merupakan ilmu yang membahas tentang keindahan lafad, bagaimana cara membuat kalimat menjadi indah dan sesuai dengan situasi dan kondisi tentunya dengan memilih diksi yang tepat.
Sebagian besar ahli balaghah berpendapat, bahwa pembahasan ilmu Badi’ meliputi dua aspek; pertama, muhassinat al-lafdziyah dan kedua, muhassinat ma’nawiyah. Dalam buku “Jawahir al-Balaghah[12] yang ditulis oleh al-Hasyimi disebutkan, bahwa bahasan muhassinat lafdziyah meliputi tidak kurang dari 23 macam pembahasan, diantaranya; al-jinas, al-saj’, al-iqtibas, dan lainnya.
Abdul Chaer dalam buku linguistik umum menjelaskan, bahwa homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. Apabila kita mencermati dari pengertian homonimi di atas maka bisa dipastikan bahwa pengertian al-Jinas dapat disetarakan dengan homonimi tersebut.
Pada kasus homonimi ini ada dua istilah lain yang biasa dibicarakan, yaitu homofoni dan homografi. Yang dimaksud dengan homofoni adalah adanya kesamaan bunyi (fon) antara dua satuan ujaran, tanpa memperhatikan ejaannya, apakah ejaannya sama ataukah berbeda. Sedangkan istilah homografi mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografinya atau ejaannya, tetapi ucapan dan maknanya tidak sama.[13] 
Masalah lain mengenai homonimi yang cukup ruwet diperdebatkan adalah membedakan homonimi dengan polisemi[14]? Patokan pertama yang harus dipegang adalah bahwa homonimi adalah dua bentuk ujaran atau lebih yang kebetulan bentuknya sama, dan maknanya tentu saja berbeda. Sedangkan polisemi adalah sebuah bentuk ujaran yang memiliki makna lebih dari satu. Makna-makna yang ada dalam polisemi, meskipun berbeda, tetapi dapat dilacak secara etimologi dan semantik, bahwa makna-makna itu masih mempunyai hubungan. Sebaliknya makna-makna dalam dua bentuk homonimi tidak mempunyai hubungan sama sekali.[15] Sebagai ilustrasi adalah hubungan antara makna kepala pada bentuk kepala surat dan makna kepala pada bentuk kepala jarum bisa ditelusuri berasal dari makna leksikal kata kepala itu. Tetapi kita tidak bisa melacak hubungan makna antara makna kata bisa (racun ular) dengan makna kata bisa (sanggup). Jelas antara keduanya tidak ada hubungan sama sekali. Menurut subjektifitas penulis, suatu kata dapat ditentukan maknanya jika saja dapat diketahui historisitas terjadinya sebuah teks atau kata tersebut ketika muncul –selain menganalisisnya melalui struktur kata dalam susunan kalimatnya-, namun perdebatan selalu muncul dikala terdapat teks yg tidak diketahui konteksnya. 
  1. Gaya Bahasa Jinas; Deskripsi dan Anatominya
Sebelum kita membahas tentang definisi Jinas, akan dipaparkan terlebih dahulu mengenai gaya bahasa. Gaya bahasa juga dikenal dengan istilah uslub atau style. Menurut penjelasan dalam kamus linguistik, gaya bahasa diberi pengertian; (1), pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis, (2), pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, (3), keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra.[16] Istilah uslub dalam kamus Mahmud yunus diberi pengertian sebagai cara yang diikuti oleh seseorang dalam mengungkapkan ide dan perasaannya.[17] Sedangkan al-Hasyimi memberikan definisi uslub dengan “makna yang terdapat dalam kata-kata yang dirangkai dalam sebuah pembicaraan dengan tujuan tertentu yang disampaikan kepada pendengarnya”.[18]
Dari beberapa penjelasan di atas dapat ditarik benang merah, diantaranya: uslub atau gaya bahasa adalah sebuah cara komunikasi seseorang melalui bahasa kepada orang lain dengan suatu maksud tertentu. Dengan demikian dapat dikategorisasikan bahwa uslub memiliki tiga unsur, pertama, ide atau pikiran yang akan disampaikan kepada orang lain, kedua, pilihan kata (diction) yang akan digunakan, ketiga, model, susunan, struktur, atau gaya bahasa yang akan digunakan ketika menyampaikan.
Jinas diambil dari kata ja-na-sa, yu-ja-ni-su, ji-na-san, mu-ta-ja-ni-sa-tan. Secara etomologi berarti menyerupai dan menyatu bersamanya dalam satu bentuk.[19] Menurut Rafiq Khalil Athwi, Jinas diberi definisi tasyabuhu lafdhoini fi al-kitabati wa ikhtilafuhuma fi al-ma’na[20] (dua kata yang serupa dan artinya berbeda).
Gaya bahasa Jinas banyak ditemukan dalam ayat-ayat al-Qur’an, Hadits atau di dalam kalam Arab, antara lain:
ويوم تقوم الساعة يقسم المجرمون مالبثوا غيرساعة
(dan pada hari terjadinya hari qiyamat itu, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, bahwa mereka tinggal di dunia ini hanyalah sesaat saja).[21]
Dalam ayat tersebut terdapat terdapat dua kata yang sama yaitu الساعة, meski demikian dua kata yang sama tersebut memiliki arti yang berbeda; pertama, yang dimaksud adalah hari akhir (qiyamat), kedua, yang dimaksud adalah “jam zamaniyah” yang berarti sesaat saja. Contoh lain adalah seperti perkataan al-Busti seperti yang dikutip Marjoko Idris;[22]
فهمت فلا عجب أن أهيم # فهمت كتابك يا سيدى
(aku telah memahami surat anda, wahai tuanku, maka aku merasa senang. Dan tidaklah mengherankan kalau aku merasa senang)
Dalam puisi tersebut terdapat dua kata (فهمت) yang sama dalam pengucapan, syakal, jumlah huruf, dan urutannya. Meskipun demikian, lafad yang pertama memiliki arti “aku memahami”, dan lafad yang kedua memiliki arti “aku marasa senang”.
Perlu ditekankan lagi di sini, bahwa Jinas adalah dua kata yang sama dalam pengucapan dan memiliki perbedaan arti. Jika saja terdapat dua kata yang sama dan artinya juga sama, maka hal tersebut bukan dinamakan dengan Jinas. Al-zamakhsyari memberikan contoh beberapa kata yang sama dalam pengucapan dan memiliki makna yang sama pula.[23]diantara kata itu adalah kata ضئيل/dhailun dengan kata بئيل/bailun, dalam ungkapan yang berbunyi رجل ضئيل وامرأة بئيلة. Dua kata yang memiliki keserupaan dalam pelafalan adalah dhailun dan bailun, keduanya memiliki pengertian yang kecil, yang halus, yang kurus.  
Menurut ahli balaghah, Jinas dibagi menjadi dua macam; pertama, Jinas Tam, yaitu apabila ada dua lafad yang memiliki kesamaan dalam empat unsur; nau’ al-khuruf (jenis huruf), syakl al-khuruf (syakal), ‘adad al-khuruf (jumlah), tartib al-khuruf (urutan). Kedua, Jinas Ghairu Tam, yaitu apabila terdapat perbedaan antara kedua lafad tersebut dalam salah satu dari empat unsur yang terdapat dalam Jinas Tam.  Sebagai contoh Jinas Tam ini adalah seperti ratapan yang disampaikan oleh seorang penyair ketika meratapi putranya bernama Yahya:
وسميته يحي ليحيا فلم يكن # إلى رد أمر الله فيه سبيل
(anakku ini telah kuberi nama Yahya, dengan harapan agar dia hidup terus [sampai tuanya], tetapi tidak ada jalan bagiku untuk menolak ketentuan allah tentang dirinya[kematian]).
Jika dilihat dari aspek diksinya, maka dalam puisi di atas akan ditemukan dua kata yang sama dalam pelafalannya, namun berbeda dalam maksudnya, yaitu يحي dan يحيا. Pertama yang dimaksud adalah Yahya (nama orang) dan yahya yang kedua adalah hidup. Jika disimak, maka kedua lafad tersebut mempunyai kesamaan dalam empat unsur diatas. Oleh karenanya dinamakan Jinas Tam.
Adapun Jinas Ghairu Tam seperti yang sudah disebutkan di atas, maka ia berbeda dalam salah satu dari empat unsur yang ada dalam Jinas Tam (huruf-syakal-jumlah atau urutannya).
a.       Berbeda pada hurufnya
Seperti firman allah dalam Q.S al-Dhuhah; 9-10:
فأما اليتيم فلا تقهر وأما السائل فلا تنهر
(adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang, dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya).
Dua lafad yang serupa dalam pelafalan adalah kata تقهر/taqhar dan تنهر/tanhar, kata kerja yang pertama menggunakan huruf ق/qaf dan yang kedua menggunakan huruf ن/nun. Kata kerja taqhar berarti berlaku sewenang-wenang, sedang kata kerja tanhar berarti menghardik.
b.      Berbeda pada syakalnya
Seperti puisi Ibnu Farid berikut ini:
هلا نهاك نهاك عن لوم امرئ # لم يلف غير منعم بشقاء
(hendaklah akalmu itu dapat mencegahmu dari mencela seseorang, ingatlah tidak pernah dijumpai seorang manusiapun yang tidak pernah ditempa kemelaratan).
Sekilas apabila puisi di atas dilihat, maka ada dua kata yang mengandung keserupaan yaitu نهاك, namun keduanya dibedakan oleh syakalnya, kata yang pertama dibaca نهاك/nahaka dan yang kedua نهاك/nuhaka. Kata kerja yang pertama menggunakan syakal fathah (na) dan yang kedua menggunakan syakal wawu (nu). Kata nahaka bermakna mencegahmu, sedangkan kata nuhaka berarti akalmu. 
c.       Berbeda pada jumlah hurufnya
Seperti firman Allah dalam Q.S al-Qiyamah: 29, sebagai berikut:
والتفت الساق بالساق إلى ربك يومئذ المساق
(dan bertaut betis kanan dengan betis kiri, kepada tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau).
Dua kata yang serupa dalam pelafalan adalah kata الساق/al-saq dan المساق/al-masaq, keduanya dibedakan oleh jumlah hurufnya. Kata pertama terdiri dari tiga huruf, sedangkan kata yang kedua terdiri dari empat huruf, dengan perbedaan satu huruf (mim) pada awak katanya. Kata الساق berarti betis, sedangkan kata المساق berarti dihalau.
d.      Berbeda pada susunannya
Seperti perkataan penyair al-Ahnaf berikut ini:
حسامك فيه للأحباب فتح # ورمحك فيه للأعداء حتف
(pada pedangmu itu terletak kemenangan bagi saudara-saudaramu, dan pada tombakmu itu terletak kematian bagi musuh-musuh).
Dua kata yang serupa dalam pelafalan adalah kata فتح/fathun dan حتف/hatfun. Keduanya dibedakan oleh susunan atau letak hurufnya. Kata yang pertama tersusun dari huruf (fa-ta-ha) sedangkan yang kedua tersusun dari (ha-ta-fa). Kata fathun berarti kemenangan, sedangkan kata hatfun berarti kematian.
  1. Peta Konstalasi Macam-Macam Gaya Bahasa Jinas:
Berdasarkan pola fariasi Jinas yang terdapat dalam Jinas Tam dan Jinas Ghairu Tam, maka Jinas dapat dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya:
1.      Jinas mumatsil (جناس المماثل)
2.      Al-jinas mustaufi (الجناس المستوفي)
3.      Jinas isytiqaq (جناس اشتقاق)
4.      Jinas al-musyabbah bi al-isytiqaq (جناس المشابهه بالاشتقاق)
5.      Jinas al-mutasyabih (جناس المتشابه)
6.      Al-jinas al-murakkab (الجناس المركب)
7.      Al-jinas al-lahiq (الجناس اللاحق)
8.      Al-jinas al-naqis (الجناس الناقص)
9.      Al-jinas al-muharraf (الجناس المحرف)
10.  Jinas al-qalbu (جناس القلب)
11.  Jinas al-mudhaf (جناس المضاف)
12.  Jinas al-muzdawij al-muraddad (جناس المزدوج المردد)
13.  Jinas al-tashif (جناس التصحيف)
14.  Jinasat tsulatsiyah (جناسات ثلاثية)
15.  Jinas tsunaiyah antara kalimat-kalimat tsalatsa (جناسات ثنائية بين كلمات ثلاث)
  1. Jinas mumatsil
Adalah gaya bahasa jinas yang kedua kata serupa tersebut terbentuk dari jenis yang sama, seperti isim dengan isim atau fi’il dengan fi’il.
-          Isim dengan isim
Contoh isim dengan isim ini antara lain perkataan al-Maarri:
لم نلق غيرك إنسانا يلاذ به # فلا برحت لعين الدهر إنسانا
(kami tidak menjumpai seorang manusiapun selain engkau yang dapat dijadikan tempat berlindung. Engkau selalu menjadi hiasan bagi mata zaman).
Kedua lafad yang sama dalam pelafalan adalah kata insan. Lafad  إنسانا  yang pertama adalah isim, dan  إنسانا  yang kedua juga dari isim. Yang pertama berarti manusia, dan yang kedua berarti hiasan.
Ahmad hindawi lebih jauh lagi membagi jinas mumatsil ini –dengan melihat dari sisi bentuk katanya- menjadi jinas mumatsil antara isim mufrad dengan isim mufrad, jinas mumatsil antara isim mutsanna dengan isim mutsanna, jinas mumatsil antara isim jama’ dengan isim jama’, jinas mumatsil antara isim mufrad dengan isim jama’, juga jinas mumatsil antara fi’il dengan fi’il.[24]
-          Fi’il dengan fi’il
Contoh fi’il dengan fi’il antara lain lafad ينهون dengan lafad ينأون dalam firman Allah dalam Q.S al-An’am:
وهم ينهون عنه وينأون عنه
(dan mereka melarang orang lain mendengarkan al-Qur’an, dan mereka sendiri menjauhkan darinya).
Lafad ينهون adalah dari fi’il yang berarti melarang, sedangkan ينأون juga dari fi’il yang berarti menjauhkan diri.
  1. Jinas mustaufi
Adalah apabila kedua lafad yang sama dalam pelafalan tersebut berbentuk isim dengan fi’il, atau isim dengan dharaf.
Seperti contoh berikut ini:
-          isim dengan fi’il
seorang penyair ketika meratapi putranya bernama Yahya:
وسميته يحي ليحيا فلم يكن # إلى رد أمر الله فيه سبيل
(anakku ini telah kuberi nama Yahya, dengan harapan agar dia hidup terus [sampai tuanya], tetapi tidak ada jalan bagiku untuk menolak ketentuan allah tentang dirinya[kematian]).
Lafad يحي/yahya adalah isim atau kata benda dan berarti Yahya (nama orang), sedangkan lafad kedua  يحيا/yahya adalah fi’il atau kata kerja yang berarti hidup.
-          Dharaf dengan isim
Contohnya adalah lafad بين /baina dengan lafad  بنى/bani dalam firman Allah Q.S Thaha:
إني خشيت أن تقول فرقت بين بنى إسرائيل ولم ترقب قولى
(sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata: “kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”).
Lafad yang serupa dalam pengucapan adalah بين dan بنى yang pertama berbentuk dharaf dan berarti antara dan yang kedua berbentuk isim dan berarti Bani Israil.
  1. Jinas isytiqaq
Adalah apabila dua lafad yang serupa tersebut dari asal kata yang sama.
Contoh jenis jinas ini adalah lafad  أقم/aqim dengan lafad القيم /al-qayyim dalam firman allah Q.S al-Rum; 43 yang berbunyi:
فأقم وجهك للدين القيم من قبل أن يأتى يوم لا مردله من الله يومئذ يصدعون
(oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus [islam], sebelum dating dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya, pada hari itu mereka terpisah).
Lafad أقم dan القيم keduanya berasal dari kata yang sama, yaitu قام. sedangkan artinya berbeda; yang pertama berarti hadapkanlah, dan yang kedua berarti lurus.
  1. Jinas al-musyabbah bi al-isytiqaq
Yaitu gaya bahasa jinas yang kedua lafad yang serupa dari kata awal yang menyerupai isytiqaq.
Contoh dalam Q.S al-Syuara; 168:
إنى لعملكم من القالين
(Luth berkata: “sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”).
Lafad قال dan قالين adalah lafad yang hampir serupa, namun keduanya terbentuk dari lafad yang berbeda, seakan menyerupai isytiqaq. Lafad pertamaقال  terbentuk dari kata قول dan berarti (perkataan), sedangkan lafadقالين   dari kata قلو dan berarti (benci).
  1. Jinas al-mutasyabih
Adalah jinas yang apabila dua lafadnya memiliki kesamaan dalam bentuk tulisan, namun dibedakan oleh bentuk strukturnya. Pertama dari satu kata, dan yang lainnya tersusun dari dua kata.
Contoh puisi busti berikut ini:
إذا ملك لم يكن له ذا هبة # فدعه فدولته ذاهبة
(apabila seorang raja tidak memiliki jiwa bermurah hati, tinggalkan dia, dan kekuasannya segera sirna).
Dua lafad yang serupa adalah lafad ذاهبة , kata yang pertama berarti dermawan, dan yang kedua berarti hancur. Kedua kata tersebut bila dilihat dari asal kata, adalah sebagai berikut; ذاهبة (dermawan) berasal dari dua kata, yaitu ذا (mempunyai) dan هبة (pemberian). Sedangkan yang kedua berasal dari satu kata, yaitu ذاهبة isim fa’il dari kata  ذهب (pergi). Dengan kata lain, yang pertama itu susunannya idhafah, dan yang kedua mufrad.
  1. Al-jinas al-murakkab
Yaitu jinas yang salah satu dari dua lafad yang serupa tersusun dari dua lafad (murakkab). kedua lafadnya memiliki kesamaan dalam empat hal (huruf-syakal-jumlah-urutan), namun dibedakan oleh asal bentuk tulisan yang ada.
Contoh puisi busti berikut ini:
إذا ملك لم يكن له ذا هبة # فدعه فدولته ذاهبة
(apabila seorang raja tidak memiliki jiwa bermurah hati, tinggalkan dia, dan kekuasannya segera sirna).
Perhatikan kata yang pertama ذاهبة (terpisah antara kata yang satu dengan yang lainnya) dan ذاهبة (bersambung), karena memang satu kata. Kedua lafad tersebut kendati berbeda dalam penulisannya, namun dari sisi bacaannya sama.
  1. Al-jinas al-mudhari’
Yaitu gaya bahasa yang kedua lafadnya hampir serupa dalam pelafalan, namun dibedakan oleh hanya satu huruf, huruf yang berlainan tersebut berdekatan makhraj-nya.
Contoh firman Allah Q.S al-An’am; 26:
وهم ينهون عنه وينأون عنه
(dan mereka melarang orang lain mendengarkan al-Qur’an, dan mereka sendiri menjauhkan darinya).
Lafad yang serupa dalam pelafalan adalah ينهون dan ينأون keduanya dibedakan oleh huruf (ه) dengan (ء). Huruf yang berbeda tersebut berdekatan makhraj. Lafad ينهون berarti mereka melarang, sedangkan lafad ينأون berarti menjauhkan diri.
Sekiranya perbedaan itu lebih dari satu huruf, maka bukan termasuk dalam gaya bahasa jinas. Ahmad handawi mengatakan jika perbedaan itu terjadi lebih dari satu huruf, maka kalimat tersebut bukan dinamakan gaya bahasa jinas, ini mengingat telah jauhnya kesamaan antara kedua lafadnya.[25]
Dalam jinas mudhari’ (antara bentuk mufrad dengan mufrad) kadang perbedaannya terjadi pada huruf pertama, dan terkadang pada huruf tengahnya. Jinas al-mudhari’ terkadang terjadi antara dua lafad yang sama-sama bentuk mutsanna, sedang perbedaannya berada pada huruf pertama, kadang pada huruf di tengahnya. Jinas al-mudhari’ terkadang terjadi antara dua lafad yang sama-sama bentuk jama’ (plural), kadang antara dua lafad yang satu jama’ dan satunya mufrad. Jinas al-mudhari’ terkadang terjadi antara dua lafad yang sama-sama bentuk fi’il, sedangkan perbedaannya berada pada huruf pertama, terkadang pada huruf di tengah dan kadang berada di akhir kalimatnya.[26] 
  1. Al-jinas al-lahiq
Yaitu gaya bahasa yang kedua kata yang serupa dalam pengucapannya tersebut dibedakan oleh satu huruf, huruf yang berlainan tersebut berjauhan makhraj-nya.
Contoh firman Allah Q.S al-Humazah;1:
ويل لكل همزة لمزة
(kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela).
Kata همزة /humazah dengan لمزة /lumazah hanya dibedakan oleh satu huruf, dan keduanya berjauhan makhrajnya. Kata همزة berarti pengumpat, dan kata لمزة berarti pencela. Kedua lafad jinas tersebut berbeda pada huruf pertamanya.
Jinas al-lahiq ini adakalanya terjadi antara dua isim mufrad yang berbeda huruf pertamanya, adakalanya terjadi di tengah kalimat, dan adakalanya terjadi di akhir kalimat. Jinas al-lahiq juga kadang terjadi antara dua isim jama’ (plural) yang berbeda pada huruf pertamanya, dan kadang berbeda di tengah kalimatnya. Jinas al-lahiq juga kadang terjadi antara dua fi’il yang berbeda di awal hurufnya, dan kadang di tengah kalimat.[27]
  1. Al-jinas al-naqish
Adalah gaya bahasa yang kedua lafadnya serupa dalam pengucapan dan dibedakan oleh jumlah hurufnya. Dinamakan jinas naqish ini lebih disebabkan karena lafad yang satu kurang dari lafad yang lainnya. Perbedaan tersebut mungkin terjadi pada permulaan kalimat, tengah, maupun di akhir kalimat.
Contoh tambahan di awal kata, seperti dalam firman Allah Swt dalam Q.S al-Qiyamah; 29:
والتفت الساق بالساق إلى ربك يومئذ المساق
(dan bertaut betis kiri dengan kanan, kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau).
Kata yang berdekatan dalam pelafalan adalah الساق dan المساق. lafad الساق berarti betis, sedangkan lafad المساق berarti dihalau.
Contoh tambahan di tengah kata, seperti dalam ungkapan yang berbunyi:
جدى جهدى
Lafad جدى berarti حظى sedangkan جهدى berarti قدرما بذلت من الجهد .
Contoh tambahan di akhir kata, seperti dalam syair Abu Tamam berikut ini:
يمدون من أيد عواص عواصم # يصوف بأصياف قواض قواضب
(mereka berdiri tegak dengan tongkat yang kuat, sedang anda melompat dengan pedang terhunus lagi tajam).
Kata yang berdekatan dalam pelafalannya adalah عواص dan عواصم , juga kata قواض dan قواضب . lafad قواض berarti pedang, sedangkan lafad قواضب berarti tajam.
  1. Al-jinas al-mukharraf
Ahmad Hindawi memberikan definisi jinas macam ini apabila terdapat dua lafad yang sejenis mempunyai kesamaan dalam jumlah huruf, macamnya, serta urutan hurufnya dan berbeda pada harakatnya: harakat maupun sukun-nya.[28] MahmudAllan memberi nama jinas ini dengan menyebutnya sebagai jinas al-takhrif, al-mukhtalif, al-mukharrif dan juga al-mughayyir.[29]
Seperti dalam puisi shalahuddin al-shafadi berikut ini:
الجد بالجد والحرمان بالكسل # فانصب تصب عن قريب غاية الأمل
(keberuntungan itu terletak pada kesungguhan, dan kemelaratan itu terletak pada kemalasan. Berjibakulah, engkau akan mendapatkan cita-citamu segera).
Kata yang berdekatan pengucapannya adalah الجد (al-jaddu) dan الجد (al-jiddi), yang pertama berarti keberuntungan, dan yang kedua berarti kesungguhan. Kedua lafad tersebut dibedakan oleh harakat huruf (ج ) yang pertama berharakat fathah, sedangkan yang kedua berharakat kasrah.
  1. Jinas al-qalbu
Adalah kedua lafad yang serupa dalam pengucapannya dibedakan oleh letak susunan huruf yang ada. Nama lain dari jinas ini adalah jinas al-‘aksu.
Contoh firman Allah dalam Q.S al-Mudatstsir; 3:
وربك فكبر
(dan tuhanmu agungkanlah)
Dua lafad  ربك/rabbuka dengan lafad  كبر/kabbir tersebut mempunyai kesamaan dalam macam hurufnya, namun dibedakan oleh letak hurufnya. Lafad rabbuka tersusun dari ra-b-bu-ka, sedangkan lafad kabbir tersusun dari ka-b-bi-r. lafad yang pertama berarti (tuhanmu), sedang lafad yang kedua berarti (agungkanlah).
  1. Jinas al-mudhaf
Adalah jinas yang kedua lafad yang serupa diidhafahkan pada kata yang berlainan.
Seperti dalam ungkapan berikut ini:
أيا شبان اليوم: أكرموا رجال اليوم لأنهم ورثوا المجد والعز
(wahai para pemuda hari ini: “muliakanlah tokoh-tokoh hari ini, lantara mereka mewariskan kemuliaan dan keagungan”).
Dua kata yang diidhafahkan adalah kata اليوم , yang satu berbunyi شبان اليوم dan berarti pemuda hari ini, lafad yang kedua رجال اليوم dan berarti tokoh-tokoh hari ini.
  1. Jinas al-muzdawij
Adalah jinas kedua kata yang serupa dalam pelafalannya, datang secara berurutan.
Seperti dalam ungkapan من طلب وجد وجد (barang siapa mencari, dan bersungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkan apa yang diiginkan). Kata yang sama dalam pelafalan adalah kata وجد/wajadda dan وجد/wajada, yang pertama berarti (dan bersungguh-sungguh), yang lainnya berarti (dapat). Kedua lafad yang serupa dalam pelafalan tersebut datang secara berurutan.
  1. Jinas al-tashkhif
Adalah gaya bahasa jinas yang kedua lafadnya sama dalam hurufnya, namun dibedakan oleh letak titiknya.
Seperti firman Allah dalam Q.S al-Kahfi; 94:
الذين ضل سعيهم في الحياة الدنيا وهم يحسبون أنهم يحسنون صنعا
(yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya).
Lafad pertama يحسبون dibaca yahsabunna, sedangkan lafad yang kedua يحسنون dibaca yuhsinuna. Kedua lafad tersebut, mempunyai kesamaan dalam macam hurufnya, dan hanya dibedakan oleh satu huruf, yaitu huruf (al-bau) mempunyai titik di bawah, dan (al-nun) mempunyai titik di atas. Lafad يحسبون berarti mereka mengira, sedangkan lafad يحسنون mempunyai arti berbuat dengan sebaik-baiknya.
  1. Jinasat tsulatsiyah
Adalah gaya bahasa yang didalamnya terdapat tiga lafad yang sama atau hampir sama dalam pelafalan, namun berbeda maknanya.[30]
Seperti dalam puisi al-Tsa’alibi berikut ini:
وإذا البلابل أفصحت بلغاتها # فانف البلابل باحتساء بلابل
Lafad البلابل yang pertama berbentuk jama’ (plural) dari kata بلبل yang berarti الطائر المعروف , lafad البلابل yang kedua bentuk jama’ (plural) dari kata بلبال yang berarti الهم , sedangkan lafad البلابل yang ketiga bentuk jama’ (plural) dari kata بلبل yang berarti قناة الإبريق الذي يصب منها الخمر .
  1. Jinas tsunaiyah antara kalimat-kalimat tslatsa
Yang dimaksud dengan jinas ini adalah adanya tiga lafad, lafad yang pertama sama atau hampir sama dalam pelafalan dengan lafad yang kedua, dan lafad yang yang kedua sama dengan lafad yang ketiga, namun berbeda artinya. Istilah yang digunkan oleh Ahmad Hindawi ketika menjelaskan jinas ini adalah ما ذكره بين كلمات ثلاث والوسطى فيها متجانسة مع التى قبلها والتى بعدها dan bukan lafad yang pertama dan ketiga. Ini untuk menghindari adanya perbedaan huruf lebih dari satu.
Contoh jinas ini seperti lafad المصلحة-المفرحة-المفلحة  dalam ungkapan yang berbunyi ما المفرحة والمفلحة إلا حيث السداد والمصلحة . lafad yang pertama المفلحة memiliki kesamaan dalam pelafalan dengan kedua المفرحة , dan lafad kedua المفرحة mempunyai kesamaan dalam pelafalan dengan lafad yang ketiga المصلحة . Antara lafad المفلحة dan lafad المفرحة adalah gaya bahasa jinas, karena hanya dibedakan oleh salah satu rukun dari rukun-rukun yang empat, yaitu perbedaan huruf  pada tengah kalimat. Antara lafad المفلحة dan lafad المصلحة adalah gaya bahasa jinas , karena hanya dibedakan oleh satu rukun dari rukun-rukun yang empat, yaitu perbedaan huruf pada tengah kalimat. Sedangkan antara lafad kesatu المفرحة dan lafad ketiga المصلحة tidaklah dinamakan jinas, dikarenakan huruf yang berbeda lebih dari satu.
Penutup
Kajian jinas termasuk dalam kajian muhassinat al-lafdziyah (Ilmu Badi) yang terdapat dalam Ilmu Balaghah. Jinas merupakan gaya bahasa yang terdiri dari dua kata yang –bisa dikatakan hampir- serupa dalam pelafalan dan berbeda maknanya. Jinas dalam kajian linguistik umum sama dengan homonimi. Jinas dibedakan dengan al-tauriyah dengan dibedakan melalui beberapa hal. Al-tauriyah dalam linguistik umum sama dengan polisemi.
Jinas seperti dalam pandangan al-Zamakhsyari dalam bukunya Asas al-Balaghah dibagi menjadi ada dua macam Tam dan Ghairu Tam. Dari dua macam ini kemudian dirinci menjadi beberapa bagian, diantaranya: Jinas mumatsil, al-Jinas mustaufi, Jinas isytiqaq, Jinas al-musyabbah bi al-isytiqaq, Jinas al-mutasyabih, al-Jinas al-murakkab, al-Jinas al-lahiq, al-Jinas al-naqis, al-Jinas al-muharraf, Jinas al-qalbu, Jinas al-mudhaf, Jinas al-muzdawij al-muraddad, Jinas al-tashif, Jinasat tsulatsiyah, Jinas tsunaiyah antara kalimat-kalimat tsalatsa. Wallahu a’lam


Daftar Pustaka
Muhammad Muhammad Thoha Hilali, Taudhih al-Badi’ Fi al-Balaghah, (Iskandariyah: al-Kutub al-Islami al-Hadits, 1997).
Wahab Muhsin, Fuad Wahab, Pokok-Pokok Ilmu Balaghah, (Bandung: Angkasa, 1986).
Ahmad Handawi Hilal, al-Jinas Fi Asas al-Balaghah Li Zamakhsyari: Dirasah Balaghiyah Tahliliyah, (Kairo: Maktabah Wahbah, 2002). 
Sukron Kamil, Teori Kritik Sastra Arab Klasik Dan Modern, (Jakarta: Rajawali Press, 2009).
Tamam Hasan, al-Ushul Dirasah Ibistimulujiyah Li al-Fikri al-Lughawi Inda al-Arab: al-Nahw, Fiqh al-Lughah, al-Balaghah, (Kairo: Alam Al-Kutub, 2000).
Adabiyat Vol. 10, no 1, Juni 2011, (jurnal fak. Adab UIN Su-Ka Jogjakarta).
Marjoko Idris, Ilmu Balaghah: Antara al-Bayan Dan al-Badi’, (Yogyakarta: Teras, 2007).
Marjoko Idris, Ilmu Balaghah; Kajian Khusus Uslub Jinas Dan Iqtibas, (Yogyakarta: Teras, 2007).
Ahmad al-Hasyimi, Jawahir al-Balaghah Fi al-Ma’ani Wa al-Bayan Wa al-Badi’, (Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2009).
Ahmad Hasan al-Maraghi, Ilmu al-Badi’, (Bairut: Dar al-Ulum al-Arabiyah, 1991).
Rafiq Khalil Athwi, Shina’ah al-Kitabah; Ilm al-Bayan, Ilm al-Ma’ani, Ilm al-Badi’, (Bairut: Dar al-Ilm Li al-Malayin, 1989).
Abdul Chaer, Linguistik Umum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007).
Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, edisi ke tiga, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993).
Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, 1973).



[1] Muhammad Muhammad Thoha Hilali, Taudhih al-Badi’ Fi al-Balaghah, (Iskandariyah: al-Kutub al-Islami al-Hadits, 1997), 6.
[2] Ibid., 6.
[3] Wahab Muhsin, Fuad Wahab, Pokok-Pokok Ilmu Balaghah, (Bandung: Angkasa, 1986), 3.
[4] Ahmad Handawi Hilal, al-Jinas Fi Asas al-Balaghah Li Zamakhsyari: Dirasah Balaghiyah Tahliliyah, (Kairo: Maktabah Wahbah, 2002), 7-10. Bisa juga diakses memalui web site dengan alamat http://www.tahir-ali.com/2012/05/biografi-lengkap-al-zamakhsyari-nama.html. Bisa juga diakses melalui web site dengan alamat http://adiebreezha.blogspot.com/2011/01/biografi-al-zamakhsyari.html atau bisa juga diakses melalui web site dengan alamat berikut ini http://mustastghitsin-aghitsna.blogspot.com/2010/01/al-zamakhsyari-dan-tafsirnya.html atau bisa juga dibaca dalam web site dengan alamat http://sastrasantri.wordpress.com/2009/02/14/az-zamakhsyari/ (diakses 17-Oktober-2012).
[5]Ahmad Handawi Hilal, Al-Jinas Fi Asas Al-Balaghah Li Zamakhsyari: Dirasah Balaghiyah Tahliliyah,…..8-9. 
[6] Sukron Kamil, Teori Kritik Sastra Arab Klasik Dan Modern, (Jakarta: Rajawali Press, 2009), 135. Sebagai perbandingan baca juga dalam Muhammad Muhammad Thoha Hilali, Taudhih al-Badi’ Fi al-Balaghah,….6. untuk mengetahui sejarah pertumbuhan dan perkembangan ilmu Balaghah yang pada mulanya hanya sebuah seni kreasi sastra sampai menjadi sebuah pengetahuan yang epistemik bisa dibaca dalam bukunya Tamam Hasan, al-Ushul Dirasah Ibistimulujiyah Li al-Fikri al-Lughawi Inda al-Arab: al-Nahw, Fiqh al-Lughah, al-Balaghah, (Kairo: Alam Al-Kutub, 2000), 273-278. Adabiyat Vol. 10, no 1, Juni 2011, (jurnal fak. Adab UIN Su-Ka Jogjakarta), 19-38.
[7] Sukron Kamil, Teori Kritik Sastra Arab Klasik Dan Modern,…..136.
[8] Ibid., 140.
[9] Ibid., 140-143.
[10] Marjoko Idris, Ilmu Balaghah: Antara al-Bayan Dan al-Badi’, (Yogyakarta: Teras,2007), 58.
[11] Ibid, 57-58.
[12] Ahmad al-Hasyimi, Jawahir al-Balaghah Fi al-Ma’ani Wa al-Bayan Wa al-Badi’, (Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2009), 234. Bandingkan juga dalam Ahmad Hasan al-Maraghi, Ilmu al-Badi’, (Bairut: Dar al-Ulum al-Arabiyah, 1991) 109. Rafiq Khalil Athwi, Shina’ah al-Kitabah; Ilm al-Bayan, Ilm al-Ma’ani, Ilm al-Badi’, (Bairut: Dar al-Ilm Li al-Malayin, 1989), 135.
[13] Abdul Chaer, Linguistik Umum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), 302-304.
[14] Polisemi dalam kajian ilmu Balaghah setara dengan al-TauriyahMuhammad Muhammad Thoha Hilali, Taudhih al-Badi’ Fi al-Balaghah,……34 dan 102-103.
[15] Abdul Chaer, Linguistik Umum,……304.
[16] Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, edisi ke tiga, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), 63.
[17] Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, 1973), 175.
[18]Ahmad al-Hasyimi, Jawahir al-Balaghah Fi al-Ma’ani Wa al-Bayan Wa al-Badi’,…….44.
[19] Ahmad Handawi Hilal, al-Jinas Fi Asas al-Balaghah Li Zamakhsyari: Dirasah Balaghiyah Tahliliyah,……12.
[20] Rafiq Khalil Athwi, Shina’ah al-Kitabah; Ilm al-Bayan, Ilm al-Ma’ani, Ilm al-Badi’,….135. coba bandingkan dengan Marjoko Idris, Ilmu Balaghah: Antara al-Bayan Dan al-Badi’, (Yogyakarta: Teras, 2007), 59, Marjoko Idris, Ilmu Balaghah; Kajian Khusus Uslub Jinas Dan Iqtibas, (Yogyakarta: Teras, 2007), 7.
[21] Q.S al-Rum: 55.
[22] Marjoko Idris, Ilmu Balaghah; Kajian Khusus Uslub Jinas Dan Iqtibas,…..8
[23] Ahmad Handawi Hilal, al-Jinas Fi Asas al-Balaghah Li Zamakhsyari: Dirasah Balaghiyah Tahliliyah,…….13.
[24] Ibid., 28.
[25] Ibid., 74.
[26] Marjoko Idris, Ilmu Balaghah; Kajian Khusus Uslub Jinas Dan Iqtibas,…..30.
[27] Ibid., 31.
[28] Ibid., 40, Ahmad Hindawi, al-Jinas……38.
[29] Marjoko Idris, Ilmu Balaghah; Kajian Khusus Uslub Jinas Dan Iqtibas,……39
[30] Ibid., 55. Ahmad Hindawi, al-Jinas……124-125.

2 komentar: