Kamis, 07 Februari 2013

Orientalisme dan Oksidentalisme (Melacak Akar, Faktor Sekaligus Aktor Kesejarahannya)


Orientalisme dan Oksidentalisme
(Melacak Akar, Faktor Sekaligus Aktor Kesejarahannya)
Muhyiddin
Pengantar
Wacana Islam dan Barat dalam kajian keislaman merupakan kajian yang benar-benar baru. Artinya, dalam diskursus keagamaan klasik tidak mendapat perhatian serius. Kajian keislaman, baik dalam bidang kalam, tafsir, hadis maupun tasawuf, secara umum hanya membahas hal-hal yang berhubungan dengan konteks umat Islam. Sedangkan, pembahasan untuk konteks global seperti sekarang ini, diskursus Islam dan Barat masuk dalam kategori “yang tak terpikirkan”. Walaupun terdapat pembahasan tentang Islam dan yang lain (the other), paling hanya berkisar seputar hubungan antara umat Islam dan non-muslim dalam lingkup ajaran, doktrin dan agama. Sedangkan kajian yang lebih luas tentang hubungan Islam dan Barat atau budaya masyarakat di luar Islam masih sulit ditemukan.
Kajian ketimuran dan kebaratan dalam studi keislaman (islamic studies) biasanya dibingkai dalam istilah orientalisme dan oksidentalisme. Sebenarnya seperti apa orientalisme dan oksidentalisme didefinisikan oleh para pakar, dan bagaimana eksistensinya dalam sejarah dunia? Penulis dalam makalah ini akan menjelaskan dua persoalan di atas dengan pendekatan historis-fenomenologis, sehingga diharapkan pendekatan itu dapat mengungkap akar dan faktor terjadinya orientalisme dan oksidentalisme.
Selama ini, asumsi yang dibangun bahwa kajian orientalisme dianggap negatif oleh para pengkaji keislaman yang notabene berasal dari timur (occidentalist) karena dianggap tidak objektif dan mengada-ada, selain itu standar kajiannya terlalu eurosentrism sehingga memunculkan wacana yang narsisisme (al-Ana). Adapun oksidentalisme –yang oleh sebagian kalangan akademisi diwacanakan sebagai lawan orientalisme- merupakan sebuah antitesis yang sifatnya historis, oksidentalisme diwacanakan untuk mengkonfrontasi kajian orientalisme yang sifatnya dianggap sepihak, tidak objektif dan mengada ada. Dengan begitu, ketika dua wacana ini dipertentangkan seakan-akan terjadi perang antara peradaban timur dan barat yang kemudian oleh Samuel P. Huntington disebut dengan benturan peradaban (the clash of civilization-1997).
Dalam makalah ini penulis mencoba menelusuri akar kesejarahan orientalisme dan oksidentalisme serta faktor-faktor yang memicunya, dengan demikian penulis ingin memetakan seperti apa dinamika intelektual timur dan barat yang terbingkai dalam wacana orientalisme dan oksidentalisme, dengan mengetahui persoalan yang terjadi dalam dua wacana yang menjadi pembahasan inti makalah ini, pembaca ataupun akademisi bisa lebih obyektif dalam menyikapinya.
Dalam makalah ini, penulis ingin memberi gambaran awal tentang orientalisme dan oksidentalisme; menelusuri akar sejarah, eksistensi dan para aktornya. Rasanya terlalu singkat menggambarkan dan sekaligus menyimpulkan hanya dengan tulisan yang seringkas ini, semoga dengan membaca sekelumit tulisan ini banyak kalangan akademisi dan peminat kajian orientalisme dan oksidentalisme mendapatkan inspirasi untuk meneliti lebih lanjut dengan tema yang sama dan fokus yang berbeda (lebih mendalam).

A.  Pengertian Orientalisme dan Oksidentalisme
I.     Orientalisme
Orientalisme berasal dari kata orient, bahasa prancis, yang secara harfiah bermakna timur dan secara geografis bermakna dunia belahan timur, dan secara etimologis bermakna bangsa-bangsa di timur. Kata “orient” telah memasuki berbagai bahasa eropa, termasuk bahasa inggris. Oriental adalah sebuah kata sifat yang bermakna hal-hal yang bersifat timur, yang teramat luas ruang lingkupnya. Orientalis adalah kata nama pelaku yang menunjukkan seseorang yang ahli tentang hal-hal yang berkaitan dengan “timur” itu; biasanya disingkat dengan sebutan ahli ketimuran.[1] Kata “isme” (belanda) ataupun “ism” (inggris) menunjukkan pengertian tentang suatu paham atau aliran, yang berkeinginan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan bangsa-bangsa timur beserta lingkungannya. Dalam buku Al-Mausu’ah Al-Muyassarah Fi Al-Adyan Wa Al-Madzahib Al-Mu’ashirah,[2] orientalisme (al-istisyraq) dideskripsikan sebagai gelombang pemikiran yang mencerminkan berbagai studi ketimuran yang islami. Sedangkan objek kajiannya mencakup peradaban, agama, seni, sastra, bahasa, dan kebudayaan.
II.  Oksidentalisme
Oksidentalisme (al-Istighrab) adalah lawan dari orientalisme (al-Istisyraq). Kalau oreintalisme melihat potret Timur yang dalam tanda petik “Islam” dari kacamata Barat, maka oksidentalisme justru sebaliknya; melihat potret Barat dari kacamata Timur.[3] Apabila ditinjau dari segi etimologinya, oksidentalisme diambil dari akar kata occident yang berarti “arah matahari terbenam”. Kata ini berasal dari bahasa Latin, occidens dari kata occido atau occedo, dan occidere, yang berarti to go down. Istilah istilah itu mengandung beberapa arti, seperti: turun, memukul, membunuh, menghancurleburkan, jatuh, roboh, rebah, terbenam, disebelah barat, berakhir, habis riwayatnya, hilang, lenyap, matahari terbenam, senja atau barat, bagian dunia sebelah barat Asia terutama Eropa dan Amerika. Sedangkan Misi dari oksidentalisme sendiri adalah mengurai dan menetralisasi distorsi sejarah antara Timur dan Barat, dan mencoba meletakan kembali peradaban Barat pada proporsi geografisnya.[4]
Melihat dari dua deskripsi di atas (orientalisme maupun oksidentalisme), sementara bisa disimpulkan bahwa orientalisme dan oksidentalisme merupakan kajian kawasan, teritorial baik Timur baupun Barat yang dideskripsikan melalui wacana pengetahuan dan kebudayaan.
B.  Sejarah dan Faktor Pendorong Wacana Orientalisme Dan Oksidentalisme
I.     Akar Sejarah Dan Faktor Pendorong Orientalisme
Sejak tahun 60-an sehabis perang dunia II (1939-1945) dikenal sebutan “dunia belahan utara” dan “dunia belahan selatan” yang masing-masing berarti “negara-negara maju” (industrial countries) dan “negara-negara berkembang” (developed countries). Tetapi sebelumnya sejak sekian abad lamanya, dipergunakan sebutan dunia timur dan dunia barat. Dimaksudkan dengan dunia barat dewasa itu ialah wilayah Eropa dengan penduduknya, dan belakangan mencakup benua Amerika setelah dunia baru itu di temukan oleh Christoper Columbus pada tahun 1493 M. dan setelah itu maka mulailah penduduk yang berada di wilayah Eropa melakukan emigrasi ke benua baru temuannya. Hasrat untuk mengenali hal-hal yang berkaitan dengan benua Timur itu disebut orientalisme yang dimunculkan oleh dunia Barat.[5]
Adapun akar sejarah yang mendorong hasrat para orientalis untuk mengetahui seluk beluk dunia ketimuran bisa ditelusuri sejak dari zaman purbakala (ancient age) dan masa-masa berikutnya sampai menjelang awal abad ke-16 M.
Zaman Purbakala
Perbenturan kepentingan memperebutkan wilayah kekuasaan menyebabkan pecahnya perang yang berkelanjutan antara Grik tua dengan dinasti Achaemenids (600-330 SM) dari imperium Parsi, sejak masa pemerintahan Cyrus The Great (550-530 SM) sampai kepada raja-raja Parsi turunannya. Pada masa itu telah terjadi sejenis hubungan permusuhan, perbenturan kepentingan, yang mendorong masing-masing pihak untuk mengenali keadaan pihak lainnya. perbenturan kepentingan dan permusuhan yang terjadi berabad-abad lamanya antara pihak Barat dan pihak Timur dikisahkan dalam buku Anabasis karya Xenophon (431-378 SM).[6]
Belakangan, Alexander The Great (356-323 SM) dari Macedonia, murid Aristoteles (384-322 SM), merebut Asia kecil dari kekuasaan Parsi dan kemudian menaklukkan wilayah luas sejak dari Lybia dan Mesir di pesisir Afrika utara sampai ke Asia tengah berbataskan pegunungan Thian Shan dengan pihak Tiongkok, maju selanjutnya memasuki anak benua India dan menempatkan gubenur Grik di kota Taxila, dekat Peshawar sekarang. Dengan demikian pihak Barat telah berbenturan langsung dengan daerah pedalaman Asia dan menemukan ragam bentuk kekuasaan, ragam kebudayaan, ragam keyakinan keagamaan, dan ragam adat istiadat.[7]
Sewaktu Alexander The Great wafat pada tahun 323 SM. Tanpa meninggalkan keturunan, maka wilayah kekuasaannya yang demikian luas menjadi rebutan para panglimanya. Kekuasaan Grik di anak benua India kemudian ditumbangkan oleh dinasti Maurya (321-184 SM) yang dibangun oleh Chandragupta. Kekuasaan Grik dalam wilayah Asia tengah dan wilayah Iran ditumbangkan kembali oleh dinasti Arsacids (247 SM-226 M). Hanya tinggal kekuasaan grik di Asia kecil, Syiria dan Palestina di bawah dinasti Seleucids (305-64 SM), dan di Mesir dan Libia di bawah kekuasaan dinasti Ptolemi (305-30 SM), dan kota-kota di semenanjung Grik saja yang membebaskan diri kembali menjadi polis-polis merdeka seperti pada masa sebelum ditaklukkan raja Philip (356-336 SM) dari Macedonia.[8]    Kekuasaan Grik pada akhirnya ditumbangkan pihak Roma dan terbentuklah wilayah imperium Roma yang menguasai wilayah luas sejak dari Asia kecil, Suria, Palestina, Mesir, pesisir Afrika utara, semenanjung Iberia (Spanyol-Portugal), Gaul (Prancis), sampai kepulauan Britain (Inggris).[9]
Zaman Pertengahan
Zaman tengah bermula pada abad ke-4 masehi dan berlangsung selama seribu tahun sampai dengan zaman kebangkitan (renaissance) di Eropa pada abad ke-14 masehi. Ibukota imperium Roma sudah dipindahkan ke Konstantinopel dikenal dengan imperium Roma timur (Bizantium). Sedangkan wilayah Eropa barat telah terbagi menjadi sekian banyak kekuasaan-kekuasaan setempat, dikenal dengan kekuasaan feodal. Sejak abad ke-3 masehi, tidak henti-hentinya berkecamuk peperangan antara imperium Roma timur dengan dinasti Sasanids (206-651 M.) dari imperium Parsi sampai pertengahan abad ke-7 masehi. Kemudian wilayah imperium Parsi itu direbut dan dikuasai pihak Islam pada masa pemerintahan khalifah Umar Bin Khattab (634-644 M), begitu pula wilayah Suriah, Palestina, Mesir dan Libia dari kekuasaan imperium Roma timur. Pada pemerintahan khalifah Walid Bin Abdul Malik (705-715 M) dari daulah Umayyah (661-750 M) kekuasaan Islam itu membentang sejak dari pegunungan Thian Shan di belahan timur sampai pegunungan Pyrenees di belahan barat, hingga lautan tengah dalam masa berabad-abad berikutnya terpandang sebagai lake of arabs (danau bangsa Arab).[10]
Sampai pada saat tumbangnya kekuasaan Islam di Andalusia tahun 1492 M. Pada penghujung abad ke-15 masehi –selama delapan abad semenjak abad ke-7 masehi- dunia Barat hanya mengenali bangsa-bangsa timur di sekitar lautan tengah belaka. 
Demikianlah sekilas akar sejarah pertumbuhan minat pihak Barat mempelajari situasi dan kondisi di Timur.
Faktor pendorong kajian orientalisme
Apabila diuraikan faktor-faktor pendorong timbulnya kajian orientalisme maka akan sangat banyak sekali variannya karena tiap sejarawan memiliki argumen yang berbeda. Meskipun demikian, dalam makalah ini penulis akan menuliskan beberapa poin penting saja, diantaranya adalah:
1.    Perang Salib
Pada tahun 968 M, daulah Fatimiyah (909-1171 M) yang terbentuk di tunisia akhirnya berhasil merebut dan menguasai wilayah Mesir dari kekuasaan daulah Abbasiah, sewaktu daulah fatimiyah berada di bawah kekuasaan khalifah muiz lidinillah (952-975 M), lalu Membangun ibu kota Kairo dan perguruan tinggi al-Azhar dengan kurikulum berdasarkan paham Syi’ah guna menandingi perguruan tinggi Nizdamiyah di Baghdad yang kurikulumnya berdasarkan paham Sunni. Belakangan daulah Fatimiah itu meluaskan kekuasaannya ke Palestina dan Suriah.
Sementara itu, kota suci Jerussalem sejak dikuasai oleh pihak Islam pada tahun 636 M. tetap merupakan kota suci bagi tiga agama; Yahudi, Kristen, dan Islam. Baik orang-orang Kristen maupun orang-orang Yahudi yang berziarah ke kota suci itu akan memperoleh kebebasan sepenuhnya untuk mengunjungi tempat-tempat yang dianggap suci oleh masing-masing agama sekaligus akan diperlakukan sebaik-baiknya selama berada di kota suci itu. Tetapi di bawah kekuasaan daulah Fatimiah, berlaku tekanan terhadap orang-orang Kristen yang berziarah ke kota suci tersebut. Dengan adanya kasus itu oleh Paus Urban II (1088-1099) dari Vatikan untuk membangkitkan kemarahan orang-orang Kristen dan raja-raja Kristen di Eropa untuk melakukan perang suci (Holy War) ke tanah suci guna merebut tanah suci itu dari kekuasaan pihak Islam. Itulah yang disebut “Perang Salib” (The Crausades) yang berlangsung hampir dua abad lamanya.
Selama dua abad itu, Perang Salib terjadi sebanyak delapan kali;
1-   Angkatan Salib I (1096-1099 M)
2-   Angkatan Salib II (1147-1149 M)
3-   Angkatan Salib III (1189-1192 M)
4-   Angkatan Salib IV (1202-1204 M)
5-   Angkatan Salib V (1218-1221 M)
6-   Angkatan Salib VI (1228-1229 M)
7-   Angkatan Salib VII (1248-1254 M)
8-   Angkatan Salib VIII (1270-1271 M)
Akibat dari Perang Salib yang terjadi hampir dua abad lamanya, besar sekali pengaruhnya terhadap dunia Barat dalam bidang budaya dan intelektual. Sebelumnya, sejak abad ke-7 masehi, pihak Islam yang memasuki wilayah-wilayah Kristen sejak dari asia kecil sampai ke semenanjung Italia dan semenanjung Iberia (Spanyol, Portugal) dan wilayah-wilayah Eropa yang mengunjungi wilayah-wilayah kekuasaan Islam, maka hal itu hanya bersifat perorangan belaka. Tetapi selama Perang Salib yang terjadi hampir dua abad lamanya mereka datang dalam jumlah yang besar, sampai ratusan ribu setiap angkatan dari lapisan rakyat umum sampai kaum bangsawan. Di wilayah-wilayah Islam itulah mereka menyaksikan kaste-kastel bekas kediaman amir-amir Islam maupun para sultan di wilayah suriah maupun tanah suci bekas imperium Roma itu, berhiaskan dekorasi yang membangkitkan rasa estetik. Tetapi sejak Perang Salib, terjadilah perubahan besar. Mereka mulai memesan benda-benda yang terpandang mewah ketika itu, sehingga berkembanglah perdagangan Venezia dan Genoa, yang menyambut barang-barang kebutuhan tingkat tinggi dari saudagar-saudagar muslim di Bandar-bandar dagang sekitar laut tengah.[11]
Selain menyaksikan perkembangan kebudayaan dunia Islam, mereka juga menyaksikan betapa tinggi perkembangan ilmiah dan filsafat sehingga menggelorakan selera kaum cendekiawan yang ikut dalam setiap angkatan Perang Salib. Semua itu semakin membangkitkan minat dan perhatian untuk menggali dan mempelajari situasi dan kondisi di benua Timur.
Dari Perang Salib yang terjadi, sebenarnya terdapat motif yang tersembunyi berupa misi penyebaran agama Kristen dan perebutan wilayah yang berlandaskan ekonomi, sehingga pada masa-masa selanjutnya yang terjadi di banyak negara Timur adalah merebaknya kolonialisme.
2.    Sentuhan Barat Dengan Perguruan Tinggi Pihak Islam
Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan orientalisme adalah persentuhan tokoh-tokoh dari Barat dengan perguruan tinggi Islam.[12] Sejarah mencatat adanya empat perguruan tinggi tertua di lingkungan dunia Islam. Perguruan tinggi tertua dunia Islam di belahan timur berkedudukan di Baghdad (Irak) dan Kairo (Mesir); yang kurang mengundang perhatian tokoh-tokoh dari Barat pada masa itu dan masa-masa berikutnya. Sebaliknya dua perguruan tinggi tertua dunia Islam di belahan barat yang berkedudukan di Cordova (Andalusia) dan Fez (Maroko), justru tarikannya begitu kuat mengundang tokoh-tokoh dunia Barat untuk belajar dan meneliti.[13] Keempat perguruan tinggi tertua di dunia Islam itu adalah: Nidzamiah, Al-Azhar, Cordova, Kairwan.
Dari jumlah keempat perguruan tinggi tertua dalam dunia Islam itu yang sampai saat ini masih hidup hanya cuma dua perguruan tinggi: Al-Azhar (972 M) dan Kairwan (859) di Maroko. Itulah dua buah perguruan tinggi tertua di dunia sepanjang sejarah, dibandingkan perguruan tinggi Oxford (1163 M) dan Cambridge (1209 M) di Inggris, Sorbonne (1253 M) di Prancis, Tubingen (1477 M) di Jerman, Edinburgh (1582 M) di Skotlandia.   
3.    Penyalinan Naskah-Naskah Arab Ke Dalam Bahasa Latin Mengenai Bidang Ilmiah Dan Filsafat
Faktor lain yang menumbuhkan kajian orientalisme adalah keinginan menyelami hal-hal yang berkaitan maupun yang datang dari Timur, hal itu terjadi dikarenakan terdapat penyalinan manuskrip-manuskrip kedalam bahasa Latin sejak abad ke-13 masehi hingga bangkitnya zaman kebangkitan (renaissance) di eropa pada abad ke-14. Kegiatan penyalinan manuskrip-manuskrip itu pertama kali mendapat restu King Frederick II dari Sicily (1198-1212) yang kemudian menjabat kaisar Holy Roman Empire (1215-1250).[14]
Meskipun mendapat persetujuan dari Paus di Vatikan, namun kegiatan itu tetap berlangsung sehingga terbangun perguruan-perguruan tinggi di semenanjung Italia, Padua, Florence, Milano, Venezia, kemudian di susul oleh Oxford dan Cambridge di Inggris, Sorbonne di Prancis, dan Tubingen di Jerman. Manuskrip-manuskrip karya ilmuwan muslim dari berbagai cabang ilmiah itu di salin kedalam bahasa latin; utamanya dalam bidang filsafat sehingga melahirkan aliran Skolastik, Rasionalisme, Empirisme, dan lainnya.
Berkat penyalinan karya-karya ilmiah dari manuskrip-manuskrip Arab tersebut, terbukalah jalan bagi perkembangan cabang-cabang ilmiah tersebut di Barat.[15] Apalagi sesudah aliran Empirisme –yang dikumandangkan oleh Francis Bacon (1561-1626) melalui karyanya Novum Organon- menguasai alam pikiran Barat dan berkembangnya observasi dan eksperimen. Akan tetapi penyalinan karya-karya filsafat itu juga membangkitkan pro dan kontra yang sangat tajam pada masa-masa permulaan.
Selain itu, pengaruh lawatan marco polo (1254-1324) ke tiongkok yang mewariskan karya berjudul description of the world (uraian tentang dunia) yang belakangan lebih dikenal dengan judul the travels of marco polo (perlawatan marco polo) dianggap memberikan pengaruh besar terhadap Barat untuk mengkaji Timur lebih lanjut.[16]
II.  Akar Sejarah Dan Faktor Pendorong Oksidentalisme
Apabila di telisik, menurut Hassan Hanafi[17] akar oksidentalisme lebih lampau dari Revolusi Perancis, tapi sudah dimulai jauh sebelum itu, yaitu sejak lahirnya peradaban ego yang diwakili tradisi Islam selama empat belas abad atau lebih. Akar oksidentalisme dapat dilacak jika kita tahu hubungan kita (Timur) dengan Yunani di masa lalu. Yunani adalah bagian dari Barat baik ditinjau dari segi geografis, sejarah maupun peradabannya. Yunani dan Romawi merupakan sumber kesadaran Eropa. Sedangkan peradaban baru ego yang diwakili tradisi Islam kuno memiliki akar lain yang lebih tua di masa lampau, yaitu peradaban Timur kuno di Mesir, Kan’an, Asyuriah, Babilonia, Persia, India, Cina. Peradaban-peradaban tersebut adalah peradaban yang diwarisi Islam dan merepresentasikan peradaban ego-Islam baru. Sebagai sumber, peradaban-peradaban tersebut merupakan dimensi Timur peradaban baru ego dan evolusi tauhid dari agama-agama Cina sampai India, kemudian ke negara-negara antara sungai Kan’an dan Mesir. Begitu pula Yahudi-Kristen masuk dalam kategori akar peradaban baru ego dari Timur.[18]
Dengan demikian akar oksidentalisme dapat dilacak dalam relasi peradaban Islam dengan peradaban Yunani. Ketika peradaban Islam berstatus sebagai pengkaji, ia mampu menjadikan peradaban Yunani sebagi obyek yang dikaji. Kemudian terjadilah dialektika yang benar antara ego dengan the other, ego sebagai subyek pengkaji dan the others sebagai obyek yang dikaji. Hal ini melalui beberapa fase sebagai berikut:[19]
1-        Fase transferensi (al-naql), dalam fase ini diberikan prioritas kepada “kata” sebagai perwujudan keinginan untuk memberikan perhatian kepada bahasa buku asli, yaitu bahasa Yunani, serta memberikan perhatian kepada munculnya istilah-istilah dalam filsafat.
2-        Fase transferensi makna (al-naql al-ma’nawi), fase ini prioritas diberikan kepada “makna” sebagai manifestasi keinginan untuk memberikan perhatian kepada bahasa terjemahan, yaitu bahasa Arab, serta memulai karya filsafat tidak langsung.
3-        Fase anotasi (al-syarkh), dalam fase ini prioritas diberikan untuk tema atau substansi, dan upaya mengungkapkan tema tersebut secara langsung dengan sedikit memasukkan redaksi orang lain ke dalam karya baru ini, serta memberikan perhatian kepada struktur dan pengungkapan tema itu sendiri.
4-        Fase peringkasan (talkhish), yaitu mempelajari suatu tema dengan memfokuskan kajian pada inti tema tanpa melakukan perdebatan dan pembuktian; meminimalisir penyampaian tema tanpa melakukan penambahan atau pengurangan yang dapat mengakibatkan teks berubah menjadi substansi dan kata berubah menjadi tema.
5-        Mengarang dalam lingkup kebudayaan pendatang dengan melakukan presentasi dan penyempurnaan, sehingga kata, makna serta tema dalam kebudayaan the other, dapat dibendung. Tema yang ada dapat dijadikan sebagai tema independen ego.
6-        Mengarang dalam lingkup tema kebudayaan pendatang disamping tema tradisi ego. Disinilah potret ego menemukan kesempurnaannya dan kebudayaan the other dapat dipisahkan dari kebudayaan ego.
7-        Kritik terhadap kebudayaan pendatang dan menjelaskan lokalitas serta keterkaitannya dengan lingkungan.
8-        Menolak total kebudayaan pendatang karena sudah tidak diperlukan lagi, dan kembali kepada teks ego yang masih mentah tanpa ada keinginan untuk sedikitpun atau merasionalkannya serta melakukan interaksi dengan kebudayaan lain.
Akhir abad ke-18, setelah revolusi Perancis berakhir tahun 1789, Perancis mulai menjadi negara besar, membayang-bayangi kebesaran Inggris. Waktu Napoleon menguasai Mesir mulai 2 juli 1798, Mesir jadi kenal dengan kemajuan Perancis khususnya dan Barat (Eropa) pada umumnya,[20] karena Napoleon hanya membutuhkan waktu 20 hari untuk menundukkan Mesir secara keseluruhan dan langsung menjadikannya sebagai daerah koloni Perancis. Sewaktu Muhammad Ali dari Turki menjadi Pasya Mesir,[21] ia sangat terkesima melihat Eropa dan ingin memajukan Mesir. Dia mengirim ratusan bahkan sampai ribuan pemuda-pemuda Mesir belajar ke Eropa, terutama Perancis, Inggris, Italia dan Austria. Untuk mengawal mental spiritual para mahasiswa muslim tersebut, dikirim pula para imam. Diantara para imam itu terdapat seorang pemuda yang cerdas, Rifa’ah Badawi Rafi’ Al Tahtawi.[22] Dengan keberadaan sejumlah besar pelajar dan mahasiswa muslim beserta imam-imam yang mendampingi mereka di Perancis, berproseslah pembentukan masyarakat minoritas Islam di kota-kota besar Perancis, terutama Paris. Proses awal ini diperkuat oleh masuknya tokoh besar pemikir dan pejuang Islam, Jamaluddin Al-Afghani ke Paris tahun 1880-an.[23] Di Paris ia membentuk sebuah organisasi Islam, Al-Urwah Al-Wusqa yang anggota-anggotanya terdiri dari muslim-muslim dari Mesir, India, Suriah, Afrika Utara, dan lainnya. Lewat organisasinya itu, dia mendirikan dan menerbitkan sebuah jurnal Islam yang juga dinamakan Al-‘Urwah Al-Wusqa.[24]
Faktor Pendorong Kajian Oksidentalisme
Adapun faktor yang mendorong untuk melakukan kajian oksidentalisme menurut Hassan Hanafi dalam bukunya muqaddima fi ‘ilmi al-istighrab[25] adalah ingin membebaskan Arab (Timur) dari pengaruh hegemoni Barat, hal itu dapat diurutkan dan diringkas menjadi beberapa poin berikut ini:
1-        Awal terjadinya keguncangan peradaban Barat dengan sains Barat membuat ego kehilangan keseimbangan. Ia sekuat tenaga mengejar ilmu yang tidak diketahuinya untuk dipelajari dan dikuasai. Ia terpikat oleh pesona the other. Dalam keterpikatannya, ia melupakan dirinya dan berubah menjadi the other dan akhirnya teralienasi.
2-        Awal kebangkitan dari keguncangan imperialisme yang ditandai dengan munculnya seruan untuk menggunakan cara yang ditempuh penjajah dalam menguasai kita (Timur;Islam). Kita diharapkan dapat membebaskan diri dari penjajah dengan cara ilmu pengetahuan yang digunakan oleh Barat untuk menjajah kita. Dengan demikian kita dapat menyerang Barat dengan senjata mereka, yaitu ilmu pengetahuan dan peradaban yang tidak mengenal perbedaan antara Islam dan Kristen.
3-        Gerakan reformasi dan keinginan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Turki Usmani, tasawuf dan tradisi lama penguasa, serta munculnya seruan untuk mengambil Barat sebagai contoh kebangkitan modern. Persoalan utama sekarang bagi umat Islam adalah sebagaimana tercermin dalam sebuah judul buku limadza ta’akhkhara al-muslimun wa taqaddama ghairuhum (mengapa umat Islam terbelakang dan umat lain maju).
4-        Dibangunnya negara modern setelah terlepas dari negara elit, dan dibutuhkannya teoritisi, teknokrat, sarjana dan birokrat untuk mengisi pos-pos pemerintahan. Dalam hal ini Tahtawi dapat disebut sebagai pemukanya.
5-        Awal pengiriman delegasi keilmuan dan warga kita (Timur) ke Barat untuk belajar disana. Kemudian setelah pulang mereka melakukan modernisasi masyarakat, membangun Negara dan menciptakan kecenderungan baru pemikiran dan kebudayaan, mendampingi kecenderungan lama yang sudah ada.
6-        Kunjungan timbal balik antara Timur dan Barat, dan dikenalnya the other oleh ego yang kemudian dianggap sebagai cermin bagi ego. Kebanggaan kepada Barat pun merebak di kalangan kita (Timur), sehingga muncul anggapan bahwa Barat adalah satu-satunya tipe modernisasi.
7-        Arus penerjemahan dari Barat yang dimulai sejak berdirinya madrasah al-Alsun; beralihnya gerakan penerjemahan, seperti yang terjadi pada “Diwan Al-Hikmah” pada masa al-Makmun, dari usaha perorangan menjadi kerja yang terorganisir dan diawasi negara; serta berlanjutnya transferensi yang tiada hentinya sampai sekarang tanpa dimulainya fase inovasi.
8-        Awal penulisan tema-tema tentang wacana barat dalam bidang pemikiran, politik, sosial, etika, hukum dan lainnya yang mengakibatkan tersebarnya madzhab Barat di atas realitas kita dan kemudian menjadi fokus kebudayaan pemikat bagi umat manusia. Beredarlah buku-buku yang membahas tentang Positivisme, Eksistensialisme, Pragmatism, dan Marxisme, begitu pula buku tentang tokoh-tokoh terkenal barat seperti Descartes, Kant, Hegel, Barkeley, Russel, William James, Bergson, Whitehead, Hume, Lock, Kierkegard.
Dari sana kemudia di masa sekarang muncul gejala oksidentalisme dalam generasi kita (Timur; Islam). Banyak orang membicarakan tentang kemungkinannya bahkan perlunya membangun oksidentalisme untuk membantu Timur keluar dari wilayah imitasi kebudayaan the other. Oksidentalisme bukan sekedar kebalikan orientalisme, atau orientalisme terbalik, atau orientalisme berlawanan, tetapi merupakan reaksi atas westernisasi dan suatu upaya untuk mengentaskan ego dari keterasingannya di dalam the other.[26]
C.  Penutup
Jika diperhatikan secara seksama, baik orientalisme maupun oksidentalisme sama-sama mengkaji tentang yang lain (the other). Orient nama lainnya orientalisme, sedangkan occident nama lainnya oksidentalisme. Baik orientalisme maupun oksidentalisme memposisikan yang lain sebagai objek kajian. Kedua belah pihak sama-sama kritis terhadap sang objek. Obyek itu dilihat berada di sana. Sesuatu yang berbeda dari yang di sini. Yang lain hendak dikenali. Itu tujuan pertama. Namun tujuan selanjutnya mungkin penguasaan, “pencerahan” atau sekadar pembongkaran.
Jika penguasaan dan pembongkaran yang dituju, tentu akan muncul penolakan dari the other. Antagonisme potensial terjadi. Egoisme nir toleransi pun lebih mengemuka. Andai kata pencerahan the other yang dibayangkan terjadi, penyeragamanlah yang akan menggejala karena pencerahan the other tak lain dari upaya menyesuaikan the other dengan ego yang dianggap lebih sempurna. Dalam kondisi-kondisi sedemikian rupa, the other cenderung dilecehkan. Pihak asing dikenali untuk dilucuti dan/atau dipaksa tunduk pada diri. Berelasi dengan the other sedemikian rupa tentu tidak terpuji.
Seorang filsuf Jerman bernama Martin Heidegger (1889—1976) mengajukan konsep "Fürsorge" sebagai alternatif cara berelasi dengan the other. Konsep tersebut merupakan turunan dari konsep Dasein, In-der-Welt-sein, Besorge, Mitsein, dan Mitdasein. Secara sederhana, Dasein adalah eksistensi ada dalam ruang dan waktu. Keberadaannya di bumi (In-der-Welt-sein) mau tidak mau memposisikannya menghadapi Besorge: dunia yang diperhatikan. Dalam pada itu, Dasein adalah Mitsein: ada bersama yang lain. Ia juga Mitdasein: ada bersama Dasein lain. "Dasein pada dasarnya ada bersama yang lain".[27]Oleh Heidegger kebersamaan Dasein dengan the other itu tidak didorong ke arah Selbstsorge: perhatian pada diri yang menurutnya tautologis. Mitdasein itu justru digiring ke Fürsorge: perhatian pada the other.[28]Dengan kesadaran pada the other sebagai keniscayaan dalam Dasein, the other diperhatikan dengan penuh kehangatan sebagai kenyataan tak terpisahkan.
Lebih lanjut Jacques Derrida menawarkan konsep "hospitalité" (kesanggrahan). Filsuf Perancis kontemporer ini mendefinisikannya dengan "Sambutan tanpa tedeng aling-aling dan tanpa kalkulasi, keterbukaan tanpa batas kepada siapa pun yang tiba".[29]The other diterima sebagai yang lain yang selalu melain, karena yang lain selamanya lain. “Semua the other keseluruhannya the other.”[30]Kita tidak pernah dapat menguasai the other sepenuhnya. Selalu saja meleset upaya untuk meringkus the other dalam suatu kerangkeng yang pasti. Karena itu, kesanggrahan pada the other mau tak mau menjadi cara berelasi dengan the other.
Demikianlah sedikit tulisan mengenai orientalisme dan oksidentalisme; menelusuri akar, faktor dan aktor kesejarahannya, penulis meyakini bahwa tulisan ini hasilnya jauh dari harapan pembaca. Oleh karena itu, diharapkan adanya tulisan lebih lanjut. Semoga tulisan ini bermanfaat. Wallahu a’lam.

Daftar Pustaka
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008.
Daya, Burhanuddin, Pergumulan Timur Menyikapi Barat; Dasar-Dasar Oksidentalisme, (Yogyakarta: Suka Press, 2008).
Hanafi, Hassan, Oksidentalisme; Sikap Kita Terhadap Tradisi Barat, Terj. M. Najib Buchori, (Jakarta: Paramadina, 2000).
Sou’yb, H. M. Joesoef, Orientalisme Dan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1995).
Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, jilid 6-7; Dinamika Masa Kini, (Jakarta; Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002).
Watt, W. Montgomery, Islam Dan Peradaban Dunia; Pengaruh Islam Atas Eropa Abad Pertengahan, terj. Hendro Prasetyo, (Jakarta; PT Gramedia Utama, 2004).
Mochtar, Affandi, Tradisi Kajian Islam Modern; Survey Akademik Studi Islam Di Belanda, (Yogyakarta; UIN Sunan Kalijaga Press, 2001).
Ensiklopedi Oxford; Dunia Islam Modern, jilid 4, ed. John L. Esposito, (Jakarta; Mizan, 2001).    
Basri Marwah, Hasan, dan Verdiansyah, Very, Islam Dan Barat: Membangun Teologi Dialog, (Jakarta; LSIP-Lembaga Studi Islam Progresif, 2004).
Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam; Sejarah Pemikiran Dan Gerakan, (Jakarta; Bulan Bintang, 2001).
Shimogaki, Kazuo, Kiri Islam Antara Modernism Dan Postmodernisme; Telaah Kritis Pemikiran Hassan Hanafi, terj. M. Imam Aziz dan M. Jadul Maula, (Yogyakarta; LKiS, 2004).
Edward, W. Said, Orientalisme, terj. Asep Hidayat, (Bandung; Pustaka, 1996).  
Heidegger, Mantin, Being and Time, translated by Joan Stambaugh, Albani: State University of New York Press, 1996).
Derrida, Jacques, Principle od Hospitality: Interview with Dominique Dhombres for Le Monde, translated by Asley Thomson, Parallax, vol. 11, no. 1, 2005.
_____________, The Gift of Death, translated by D. Wills, (Chicago: University of Chicago Press, 1995).




[1] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 2008, “Orientalis” didefinisikan sebagai orang yang ahli bahasa, kesusastraan, dan kebudayaan bangsa-bangsa Timur (Asia).
[2] Ensiklopedi ini sudah diterjemahkan dalam bahasa indonesia dan diterbitkan oleh Al-I’tisham Cahaya Umat dengan judul Gerakan Keagamaan Dan Pemikiran (Akar Ideologis Dan Penyebarannya). Untuk lebih jelasnya bisa di baca dalam terjemahannya dengan tema ‘Orientalisme’. 15-25.
[3] Burhanuddin Daya dalam memformulasikan oksidentalisme agak sedikit berbeda dengan yang lain yaitu: Pertama, oksidentalisme dipandang sebagai suatu mode pemikiran yang dibangun berdasarkan suatu epistemologi dan ontologi tertentu yang menancapkan perbedaan yang jelas antara Timur dan Barat. Kedua, oksidentalisme mungkin bisa juga dilihat sebagai istilah akademik yang merujuk kepada seperangkat lembaga, disiplin ilmu, dan berbagai aktivitas, yang biasanya terbatas pada perguruan-perguruan tinggi Timur yang berkepentingan dengan kajian tentang masyarakat dan kebudayaan Barat. Ketiga, oksidentalisme dapat dilihat sebagai lembaga berbadan hukum yang berkepentingan dengan masyarakat Barat. Burhanuddin Daya, Pergumulan Timur Menyikapi Barat; Dasar-Dasar Oksidentalisme, (Yogyakarta: Suka Press, 2008), 83-86.
[4] Untuk bacaan lebih lanjut bisa dilihat dalam Hassan Hanafi, Oksidentalisme; Sikap Kita Terhadap Tradisi Barat, Terj. M. Najib Buchori, (Jakarta: Paramadina, 2000), 25-34.
[5] H. M. Joesoef Sou’yb, Orientalisme Dan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), 18. Sejak abad ke-19, "orientalis" telah menjadi istilah tradisional untuk para ahli dalam bidang studi Oriental. Orientalisme lebih digunakan secara luas sebagai istilah yang merujuk pada karya-karya seniman Prancis pada abad ke-19, yang mengandung unsur-unsur yang didapat dari perjalanan mereka ke negara-negara di luar Eropa, khususnya Afrika Utara dan Asia Barat. Untuk lebih jelasnya baca juga di “Ensiklopedia WikipediaOn Line dengan kata kunci “Orientalism, Diakses Pada 15 Januari 2012. “Orientalist” muncul dalam bahasa inggris pada sekitar 1779 dan dalam bahasa perancis pada 1799, konferensi internasional para orientalis pertama kali berlangsung di Paris pada 1873. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, jilid 6-7; Dinamika Masa Kini, (Jakarta; Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), 248.
[6] H. M. Joesoef Sou’yb, Orientalisme Dan Islam,….18.
[7] Ibid., 19.
[8] Ibid., 20.
[9] Ibid., 21.
[10] Ibid., 21-22.
[11] Ibid,. 35. Bisa juga dalam tulisan W. Montgomery Watt, Islam Dan Peradaban Dunia; Pengaruh Islam Atas Eropa Abad Pertengahan, terj. Hendro Prasetyo, (Jakarta; PT Gramedia Utama, 2004). 63-80.
[12] Mengenai bagaimana tokoh-tokoh dari Barat mempelajari Islam (sebagai contoh) bisa dibaca dalam bukunya Dr. Affandi Mochtar, MA., Tradisi Kajian Islam Modern; Survey Akademik Studi Islam Di Belanda, (Yogyakarta; UIN Sunan Kalijaga Press, 2001).
[13] Kenapa para tokoh dunia Barat begitu tertarik dengan perguruan tinggi Kairwan karena budaya intelektual di sana saat itu begitu dinamis. Selain itu, dalam sejarahnya dari sanalah ilmuwan-ilmuwan muslim seperti Ibnu Thufail (1106 M), Ibnu Rushd (1126-1198 M) dan yang lainnya melahirkan karya-karya cemerlang, yang sampai sekarang menjadi kajian dunia Barat. 
[14] Di Perancis muncul Pierre Le Venerable (1094-1156 M). Seorang pendeta Venezia dan kepala biarawan Cluny, membentuk kelompok penerjemah. Tujuannya agar mendapat pengetahuan objektif tentang Islam. Ia sendiri adalah orang pertama yang menerjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa Latin (1143 M). sedangkan penerjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Inggris dilakukan pertama kali oleh Robert Of Ketton.
                   [15] Tahun 1130 M, kepala uskup Toledo menerjemahkan beberapa buku ilmiah Arab. Kemudian jejak ini diikuti oleh Gerard De Cremona (1114-1187 M) dari Italia. Ia pergi ke Toledo dan menerjemahkan buku tidak kurang dari 87 judul di bidang filsafat, kedokteran, astronomi dan geologi.                Juan De sevilla, Yahudi yang masuk Kristen ini mucul pada pertengahan abad ke-12 dan menaruh perhatian pada bidang astonomi. Ia telah menyadur 4 buah buku berbahasa Arab karya Abu Ma’syar Al-Balkhi (1133 M). tugas penerjemahannya dibantu oleh Adelard. Roger Bacon (1214-1294 M), dari Inggris. Ia menuntut ilmu di Oxford dan Paris serta meraih gelar doktor di bidang teologi. Ia menerjemahkan buku berbahasa Arab, Mir’at Al Kimia tahun 1251 M. Baca ensiklopedi Gerakan Keagamaan Dan Pemikiran (Akar Ideologis Dan Penyebarannya),15-16. Baca juga Ensiklopedi Oxford; Dunia Islam Modern, jilid 4, ed. John L. Esposito, (Jakarta; Mizan, 2001), dalam entri kata “Orientalisme”, 212-214.
[16] H. M. Joesoef Sou’yb, Orientalisme Dan Islam,…… 36.
[17] Nama Hassan Hanafi mulai mencuat di forum internasional ketika dia memperkenalkan apa yang disebutnya “Kiri Islam”. Nama “Kiri Islam” juga menjadi nama jurnal yang diterbitkan pada tahun 1981, al-yasar al-islami; kitabat fi al-nahdhah al-islamiyah. Hassan Hanafi, Oksidentalisme; Sikap Kita Dalam Menyikapi Tradisi Barat, (Jakarta; Paramadina, 2000), xi. Mengenai bagaimana konsep “Kiri Islam” menurut Hassan Hanafi sudah ada buku khusus yang menjelaskan tentang itu, Kazuo Shimogaki, Kiri Islam Antara Modernism Dan Postmodernisme; Telaah Kritis Pemikiran Hassan Hanafi, terj. M. Imam Aziz dan M. Jadul Maula, (Yogyakarta; LKiS, 2004).  
[18] Ibid., 59-60.
[19] Ibid., 60-62.
[20] Kemajuan Eropa di waktu itu tidak terlepas dari pengaruh umat Islam di abad pertengahan, bagaimana kedatangan Islam dan reaksi eropa bisa di lihat dalam tulisan W. Montgomery Watt, Islam Dan Peradaban Dunia; Pengaruh Islam Atas Eropa Abad Pertengahan, terj. Hendro Prasetyo, (Jakarta; PT Gramedia Utama, 2004).
[21] Muhammad Ali dilahirkan di Kawalla, Yunani, pada tahun 1765, dan meninggal di Mesir pada tahun 1849. Untuk mengetahui perjalanan karirnya lihat bukunya Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam; Sejarah Pemikiran Dan Gerakan, (Jakarta; Bulan Bintang, 2001), 27-33.
[22] Ia lahir pada tahun 1801 di Tahta, suatu kota yang terletak di Mesir bagian selatan, dan meninggal di Kairo pada tahun 1873. Rifa’ah Badawi Al-Tahtawi adalah pembawa pemikiran pembaharuan yang besar pengaruhnya di pertengahan pertama dari abad ke-19 di Mesir. Dalam gerakan pembaharuan Muhammad Ali Pasya, Al-Tahtawi turut memainkan peranan. Al-tahtawi adalah murid kesayangan Syikh Hasan Al-‘Attar yang banyak mempunyai hubungan dengan ahli-ahli ilmu pengetahuan dari Perancis yang datang dengan Napoleon ke Mesir. Ibid., 34-42.
[23] Jamaluddin Al-Afghani lahir di Afghanistan pada tahun 1839 dan meninggal dunia di Istambul di tahun 1897. Ia adalah seorang pemimpin pembaharuan dalam Islam yang tempat tinggal dan aktifitasnya berpindah dari satu negara Islam ke negara Islam lainnya. Ketika baru berusia 22 tahun ia telah menjadi pembantu bagi pangeran Dost Muhammad Khan di Afghanistan. Di tahun 1864, ia menjadi penasehat Sher Ali Khan. Beberapa tahun kemudian Ia diangkat oleh Muhammad Azam Khan sebagai perdana menteri. Ibid,. 43-48.
[24] Ibid., 45.
[25] Yang dalam Bahasa Indonesia sudah diterjemahkan menjadi Oksidentalisme; Sikap Kita Dalam Menyikapi Tradisi Barat, Paramadina, 2000. Untuk selengkapnya bisa dilihat dalam pembahasan “Akar Oksidentalisme”, 64-66. Dalam upayanya untuk melepaskan hegemoni Barat, dalam buku Islam Dan Barat: Membangun Teologi Dialog, Hasan dan Very mengusulkan umat Islam (Timur) harus mengembangkan sikap yang lebih humanis, pluralis, dan demokratis untuk menuju masyarakat yang damai. Hasan Basri Marwah dan Very Verdiansyah, Islam Dan Barat: Membangun Teologi Dialog, (Jakarta; LSIP-Lembaga Studi Islam Progresif, 2004), 129-157.
[26] Mengenai kajian oksidentalisme yang mengemuka di Indonesia akhir-akhir ini, justru tidak hanya diwacanakan oleh Hassan Hanafi melainkan juga oleh Edward W. Said, ilmuwan asal Pakistan, dengan bukunya yang berjudul “Orientalism”, ditebitkan oleh New York: Pantheon Books, 1978, ISBN 0-394-74067-, seri Indonesia dipublikasikan dengan judul “orientalisme”. terj. Asep Hidayat, (Bandung; Pustaka,1996). 
[27]Dasein is essentially Being with Others”. (Mantin Heidegger, Being and Time, terj. Joan Stambaugh, Albani: State University of New York Press, 1996), 281.
[28] Ibid., 366.
[29]A welcome without reserve and without calculation, an exposure without limit to whoever arrives“. (Jacques Derrida, "Principle od Hospitality: Interview with Dominique Dhombres for Le Monde, December 2, 1997, translated by Asley Thomson, Parallax, vol. 11, no. 1, 2005), 6.
[30]Tout autre est tout autre.” (Jacques Derrida, The Gift of Death, terj. D. Wills, Chicago: University of Chicago Press, 1995), 82.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar