Kamis, 07 Februari 2013

PENELITIAN SANAD HADIS SHAHIH AL-BUKHARI KITAB AL-HAJJ NO. 1424


PENELITIAN SANAD HADIS SHAHIH AL-BUKHARI
KITAB AL-HAJJ NO. 1424
Muhyiddin

A.  Pendahuluan
Secara etimologis, sanad berarti “sandaran yang dapat dipegangi atau dipercayai”. Bentuk jamaknya adalah “asnad”. Segala sesuatu yang  disandarkan kepada yang lain disebut “musnad”. Sanad disebut juga dengan thariq atau wajih.[1]
Secara terminologis, sanad adalah “jalur matn”, yaitu rangkaian para perawi yang memindahkan matn[2] dari sumber primernya. Jalur itu disebut sanad adakalanya karena periwayat bersandar kepadanya dalam menisbatkan matn kepada sumbernya, dan adakalanya karena para hafidz bertumpu kepada “periwayat” dalam mengetahui kualitas suatu hadis. Dengan demikian sanad mengandung dua bagian penting, yaitu: (a) nama-nama periwayat; (b) lambang-lambang periwayatan hadis yang telah digunakan oleh masing-masing periwayat dalam meriwayatkan hadis, misalnya sami’tu, akhbarani,’an dan anna.[3]
Berangkat dari definisi di atas unsur-unsur ke-shahih-an hadis adalah sebagai berikut: (a) sanad hadis yang bersangkutan harus bersambung mulai dari mukharrij-nya[4] sampai kepada Nabi; (b) seluruh periwayat dalam hadis itu harus bersifat ‘adil[5] dan dhabit[6]; (c) sanad dan matn-nya terhindar dari kejanggalan (syudzudz) dan cacat (‘illah). Dari ketiga butir tersebut dapat diuraikan menjadi tujuh, yakni lima berhubungan dengan sanad dan dua berhubungan dengan matan, akan tetapi di sini penulis hanya  menyebutkan sesuai dengan tema saja yaitu yang berhubungan dengan sanad: (1) ketersambungan sanad; (2) periwayat bersifat ‘adil; (3) periwayat bersifat dhabit; (4) terhindar dari kejanggalan (syudzudz); dan (5) terhindar dari cacat (‘illah).[7]
Dalam tulisan berikut ini, penulis mencoba meneliti ke-sahih-an sanad hadis Shahih Al-Bukhari Kitab Al-Hajj No. 1424 berdasarkan ketentuan-ketentuan di atas. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat membantu para pengkaji hadis Nabi dalam menelusuri hubungan ketersambungan sanad hadis serta kualitas perowinya bisa terpenuhi.
B.  Teks Hadis dalam Sahih al-Bukhari, Kitab al-Hajj No. 1424.

Bunyi riwayat hadis berdasarkan sanad al-Bukhari melalui jalur Aba Hurairah sebagai berikut:
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا سَيَّارٌ أَبُو الْحَكَمِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا حَازِمٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ[8]
Hadis di atas menjelaskan tentang barang siapa yang pergi haji karena Allah dan tidak berkata jelek dan tidak berbuat fasik (selama berhaji) maka ketika kembali dari haji seperti bayi yang baru lahir, selain dikeluarkan oleh Bukhari hadis tersebut juga dikeluarkan oleh Shahih Muslim (no. 2404), Sunan at-Tirmizi (no. 739), Sunan Nasa’i (no. 2580), Sunan Ibnu Majah (no. 2880), Sunan ad-Darimi (no. 1728), dan Musnad Ahmad (no. 6839, 7077, 8943, 9885, dan 10006). Berikut ini adalah redaksi-redaksinya:

Shahih Muslim no. 2404
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا و قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَتَى هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ و حَدَّثَنَاه سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي عَوَانَةَ وَأَبِي الْأَحْوَصِ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ مِسْعَرٍ وَسُفْيَانَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ كُلُّ هَؤُلَاءِ عَنْ مَنْصُورٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَفِي حَدِيثِهِمْ جَمِيعًا مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ سَيَّارٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ .[9]
Sunan at-Tirmidzi no. 739.
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَأَبُو حَازِمٍ كُوفِيٌّ وَهُوَ الْأَشْجَعِيُّ وَاسْمُهُ سَلْمَانُ مَوْلَى عَزَّةَ الْأَشْجَعِيَّةِ [10]

Sunan an-Nasa’i no. 2580
أَخْبَرَنَا أَبُو عَمَّارٍ الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ الْمَرْوَزِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا الْفُضَيْلُ وَهُوَ ابْنُ عِيَاضٍ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ[11]

Sunan Ibnu Majah no. 2880
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ مِسْعَرٍ وَسُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ[12]

Sunan ad-Darimi no. 1728
أَخْبَرَنَا أَبُو الْوَلِيدِ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنِي مَنْصُورٌ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا حَازِمٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ[13]
Musnad Ahmad (no. 6839, 7077, 8943, 9885, dan 10006)
No. 6839
حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ سَيَّارٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّه.[14]
No. 7077
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَمَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.[15]
No. 8943
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.[16]

No. 9885
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ أَوْ كَمَا خَرَجَ مِنْ بَطْنِ أُمِّهِ.[17]
No. 10006
حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.[18]



























b. Skema pada jalur al-Bukhari yang diteliti
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّه
 
 












Urutan nama periwayat jalur al-Bukhari adalah:
1)   Periwayat I   : Abdur Rahman (Abu Hurairah)
2)   Periwayat II  : Salman Muli (Aba Hazm)
3)   Periwayat III            : Sir bin Abi Sir (Abu Hakim)
4)   Periwayat IV            : Syu’bah bin al Hajj (Abu Bastam)
5)   Periwayat V  : Adam bin Abi Is (Abu Hasan)
6)   Periwayat VI            : al-Bukhari

D.  Meneliti kualitas: periwayat dan persambungan sanad pada jalur al-Bukhari
a.    Abu Hurairah
1.    Nama lengkap           : Abdur Rahman bin Sahra
2.    Lahir/wafat               : lahir di Madinah dan wafat di Madinah pada tahun 57 H
3.    Guru dan murid        :
v Guru-gurunya, antara lain adalah: ‘Aisyah bint Abu Bakar as-Siddiq, Abi bin Ka’ab bin Qais, Basrah bin Basrah, Hasan bin Sabit, Hamil bin Basrah, Sa’id bin Malik bin Sunan, dan lain-lain.
v Murid-muridnya, antara lain adalah: Ibrahim bin Isma’il, Abu Ja’far, Abu Hamid Muli, Abu Zaid an-Abi Hurairah, Salman Muli, Abu Abdullah, dan lain-lain.   
4.    Penilaian para kritikus hadis tentang dirinya
Beberapa sahabat menilainya ‘adalah[19] wa tautsiq. Sedangkan berdasarkan ittishal (bersambung)-nya Abu Hurairah adalah seorang sahabat yang tidak memiliki kesibukan mengenai urusan keduniaan, karena itu, dialah yang paling banyak bersama Rasulullah saw. Wajar sekali bila ia merupakan salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadis dari Nabi saw, kurang lebih selama tiga tahun. Diriwayatkan, bahwa hadis yang diambil darinya berkisar lima ribu hadis. Akan tetapi dalam banyak riwayat, dia tidak menjelaskan pendengaran langsung dari Nabi, yang jelas sebagian besar diambilnya dari sahabat-sahabat lain yang lebih dahulu masuk Islam.[20]
b.   Aba Hazm
1.    Nama lengkap           : Salman Muli ‘Azad, julukannya adalah Abu Hazm
2.    Lahir/wafat               : lahir di Kufah dan wafad tahun 151 H
3.    Guru dan murid        :
v Guru-gurunya, antara lain adalah Sa’id al-Musib bin Hazan, Abdur Rahman bin Sakhra.
v Murid-muridnya, antara lain adalah Sulaiman bin Mahran, Sir bin Abi Sir, Abd bin Abi Ali, dan lain-lain.
4.    Penilaian para kritikus hadis tentang dirinya
a). Yahya bin Mu’in              : menilainya tsiqah
b). Ahmad bin Hambal         : menilainya tsiqah
c). Muhammad bin Said       : menilainya tsiqah
d). Bin Abd al-Bir                : apa yang dikumpulkannya adalah tsiqah
Berdasarkan beberapa komentar para kritikus di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa Aba Hazm tidak diragukan lagi ke-tsiqah-annya, karena seluruh kritikus menilai dirinya tsiqah. Ditinjau dari ketersambungan sanadnya keduanya mengakui adanya hubungan guru dan murid.
c.    Sir
1.    Nama lengkap           : Sir bin Abi Sir Wardan
2.    Lahir/wafat               : lahir di Hin dan wafat di Hin tahun 122 H
3.    Guru dan muridnya  :
v Guru-gurunya, antara lain adalah Syabit bin Aslam, Jabir bin Ubaidah, Syaqiq bin Salmah, Salman Muli, Hafsah bin Ubaidillah bin Anas bin Malik, dan lain-lain.
v Murid-muridnya, antara lain adalah Syu’bah bin al-Hajj, Basyir bin Salman, Zaid bin Abi Anisah, Abdur Rahman bin Ishaq, dan lain-lain.
4.    Penilaian para kritikus hadis tentang dirinya
a). Ahmad bin Hambal         : menilainya suduq, tsiqah, dan tsubut
b). Yahya bin Mu’in             : menilainya tsiqah
c). An-Nasa’i                                    : menilainya tsiqah
d). Ibn Hibban                      : menyebutnya tsiqah
Melihat penilaian kritikus hadis terhadap Sir, dapat disimpulakan bahwa Sir tidak diragukan lagi ke-tsiqah-annya, karena beberapa kritikus menilainya tsiqah, suduq, dan tsubut. Berdasarkan ketersambungan sanadnya Sir (w. 122 H) dan Salman Muli (w. 151 H) terdapat ketersambungan, hal ini terlihat pada keterpautan antara keduanya sekitar 29 tahun, dan adanya hubungan guru dan murid.
d.   Syu’bah
1.    Nama lengkap           : Syu’bah bin al-Hajj Lurid
2.    Lahir/wafat               : lahir di Basrah dan wafat di Basrah pada tahun 160 H
3.    Guru dan muridnya  :          
v Guru-gurunya, antara lain adalah Sir bin Abi Sir, Ibrahim bin ‘Umar, Ibrahim bin Maimun, Abu Bakar bin Abdullah, Abdullah bin Amrun, dan lain-lain.
v Murid-muridnya, antara lain adalah Adam bin Abi Is, Basyar bin Sabit, Hiban bin Halal, dan lain-lain.
4.    Penilaian para kritikus hadis tentang dirinya
a). Safyan as-Sauri                : Menilainya Amirul mu’minin dalam hadis
b). Al-‘Azli                           : menilainya tsiqah
c). Muhammad bin Sa’id      : menilainya tsiqah, mu’min, subut
Berdasarkan penilaian para kritikus di atas, tidak diragukan lagi ketsiqahan pada Syu’bah, karena beberapa kritikus menilainya Amirul mu’minin dalam hadis, tsiqah, mukmin dan subut. Sedangkan kemuttasilan sanadnya atara Syu’bah dan Sir terdapat ketersambungan, dimana keduanya saling mengakui adanya hubungan guru dan murid.
e.    Adam
1.    Nama lengkap           : Adam bin Abi Is
2.    Lahir/wafat               : lahir di Baghdad dan wafat pada tahun 220 H
3.    Guru-gurunya           :
v Guru-gurunya, antara lain adalah Said bin al-Mughirah, Israil bin Yunus, Sulaiman bin al-Mughirah, ‘Isa bin Maimun, layyin bin Sa’id bin Abdur Rahman, Syu’bah bin al-Hajj, dan lain-lain.
v Murid-muridnya, antara lain adalah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim, Abdullah bin Abdur Rahman, ‘Amru bin Mansur, dan lain-lain.
4.    Penilaian para kritikus hadis tentang dirinya
a). Yahya bin Mu’in              : menilainya tsiqah
b). Abu Hatim Ar-Razi         : menilainya tsiqah mu’min
c). Al-‘Ajli                            : menilainya tsiqah
d). An-Nasa’i                        : menilainya laba’sa bih
e). Ibn Hibban                       : menyebutnya tsiqah
Berdasarkan penilaian para kritikus di atas tidak diragukan lagi ketsiqahan Adam, dimana beberapa kritikus menilainya tsiqah, tsiqah mu’min, laba’sa bih. Sedangkan ketersambungan sanadnya antara Adam dan al-Bukhari (Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim), keduanya merupakan guru dan murid.
f.     Al-Bukhari
1.    Nama lengkap           : Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughiroh
2.    Lahir/wafad              : lahir di Bukharoh, Jum’at 13 Syawal 194 H dan wafat      tahun 256 H
3.    Guru dan murid        :
v Guru-gurunya antara lain adalah: Abu Asim al-Nabil, Makki bin Ibrahim, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Mansur, Abdullah bin al-Zubair, Isma’il bin Abi Uwaisy, dan lain-lain
v Murid-muridnya, antara lain adalah: Ibnu Huzaimah, Imam Abu Husain an-Naisabur, Imam Sholih bin Muhammad, dan lain-lain.
4.    Penilaian para kritikus hadis tentag dirinya
a)    Ibnu Huzaimah                : tidak ada yang lebih tau hadis selain dia.
b)   Ibnu sholah                      : ia bergelar amirul mu’minin dalam hadis
c)    Ahmad bin Sayya                        : ia adalah penuntut dan pengembara dalam mencari hadis.
Hampir semua kritikus hadis menyatakan bahwa al-Bukhari adalah orang yang tsiqah, jalil al-qadr, dan a’lam (dapat dipercaya, sangat besar ketepatannya, dan paling mengetahui) dalam persoalan hadis.

E.  Menilai kemungkinan adanya syudzudz dan ‘llah
Terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang pengertian syudzudz suatu hadis. Paling tidak ada tiga pendapat yang paling menonjol, pertama, Menurut Imam Syafi’i (w. 204 H/820 M.), hadis syudzudz yaitu  hadis yang diriwayatkan oleh orang yang tsiqah, tetapi riwayatnya bertentangan dengan riwayat yang dikemukakan oleh kebanyakan periwayat yang tsiqah juga. Kedua, menurut al-Hakim al-Naisaburi (w. 405 H/1014 M.), hadis syudzudz adalah hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah tetapi tidak ada periwayat tsiqah lainnya yang meriwayatkan. Ketiga, menurut Abu Ya’la al-Khalili (w. 446H.), hadis syudzudz yaitu hadis yang sanadnya hanya satu buah saja, baik periwayatannya bersifat tsiqah maupun tidak bersifat tsiqah. Tetapi pendapat yang paling banyak diikuti oleh para ulama hadis sampai saat ini adalah pendapat Imam syafi’i.[21]
Selain syudzudz, ada hal lain yang perlu diteliti yaitu ‘illah hadis, yang dimaksud ‘illah adalah cacat yang tersembunyi yang tidak terlihat secara langsung dalam penelitian terhadap satu jalur sanad. Untuk meneliti sanad hadis yang mengandung ‘illah (cacat) diperlukan penelitian yang lebih cermat, sebab hadis yang bersangkutan tampak sanadnya berkualitas sahih. Diperlukan langkah-langkah untuk meneliti ‘illah hadis diantaranya: (a) meneliti seluruh sanad hadis untuk matn yang semakna, bila hadis yang bersangkutan memiliki mutabi’ ataupun syahid[22]; (b) seluruh periwayat dalam berbagai sanad diteliti berdasarkan kritik yang telah dikemukakan oleh para ahli kritik hadis.[23]
Beberapa uraian di atas dapat menjadi tolak ukur bahwa hadis al-Bukhari yang di teliti di atas kecil kemungkinan terdapat syudzudz dan ‘illah. Hal ini terlihat bahwa hadis di atas diriwayatkan oleh beberapa orang yang tsiqah, dan riwayatnya tidak bertentangan dengan riwayat yang dikemukakan oleh kebanyakan periwayat yang tsiqah, meskipun terkadang terdapat sedikit lafad berbeda yang digunakan atau perbedaan redaksi periwayatan, akan tetapi ide yang dimaksudkan tetap sama atau tidak mengurangi makna yang dimaksud.
Berdasarkan tahammul wa al-‘ada’[24] hadis tersebut menggunakan kata حَدَّثَنَا, قَالَ سَمِعْتُ, kedua kata ini mengindikasikan bahwa hadis tersebut diterima langsung dari gurunya dengan jalan mendengar, sehingga metode yang digunakan adalah metode sima’[25] Setelah melihat dan meneliti lebih dalam antara matan yang ditakhrij oleh        al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah dan ad-Darimi, tidak adanya perbedaan yang signifikan, hanya ada sebagian matan menggunakan kata كَمَا dan penambahan kata كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ dalam musnad Ahmad. Hal tersebut sama sekali tidak mengurangi makna yang dimaksud. Berdasarkan argumen-argumen di atas, kecil kemungkinan adanya syudzudz dan ‘illah, dimana hampir semua periwayatnya berkualitas tsiqah.
Berdasarkan hasil penelitian dan pernyataan di atas, Ketiadaan syahid pada periwayatan sahabat Abdur Rahman tidak mengurangi kekuatan periwayatanya, karena ke-tsiqah-annya. Hal ini berdasarkan pada pedoman asshabiyyu kulluhum ‘udul, apalagi mukharrij yang lain baik Muslim, Ahmad, Ibnu Majah dan ad-Darimi, semuanya bersumber dari periwayat yang sama, kecuali pada sanad ke-3.

F.   Kesimpulan
Melihat beberapa periwayatan yang ada, hadis di atas tergolong hadis ahad, karena dari periwayatan yang ada baik dari Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah dan ad-Darimi, diriwayatkan oleh satu sahabat saja, yaitu Abdur Rahman, bahkan bisa dikatakan gharib, sebab pada thabaqat pertama, masing-masing hanya memiliki satu perawi saja. Melihat segi persambungan sanadnya, menurut informasi riwayat hidup antara perawi yang satu dengan perawi yang lain saling bertemu. Hal ini terlihat dari masing-masing tahun wafatnya, adanya hubungan guru dan murid, dan kata-kata atau pernyataan yang dipakai dalam periwayatan hadis (tahammul wa al-‘ada’), yakni menggunakan kata حَدَّثَنَا,  قَالَ سَمِعْتُ . Kata ini menunjukkan bahwa perawi menggunakan metode sima’, sehingga kemungkinan adanya ittishal atau persambungan pada jalur al-Bukhari.
Berdasarkan hasil penelitian di atas, baik dilihat dari persambungan sanadnya, kualitas pribadi pada periwayatnya, dan tidak adanya syudzudz dan ‘illah, maka hadis ini termasuk dari kategori hadis ahad yang berkualitas shahih.

Wallahu a’lam bi as-shawwab















Daftar Pustaka
Sulaiman, Noor, Antologi Ilmu Hadis, Jakarta: Gaung Persada Press, 2008.
Suryadi, Agung Danarto, Al-Fatih Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis,Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2006.
CD Shoftware Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Shahih Bukhari.
          CD Shoftware Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Shahih Muslim.
CD Shoftware Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Sunan at-Tirmidzi.
CD Shoftware Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Sunan ad-Darimi.
CD Shoftware Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Sunan Ibnu Majah.
CD Software Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Musnad Ahmad.
CD Software Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Sunan an-Nasa’i.
Ismail, Syuhudi, Kaidah Kesahihan Sanad Hadis: Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah, Jakarta: Bulan Bintang, 1988.
Al-adlabi, Salahuddin Ibn Ahmad, Metodologi Kritik Matan Hadis, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004.


[1] Dari kata sanad muncul istilah lain seperti musnid, musnad, dan isnad. Yang di maksud dengan musnid adalah orang yang menerangkan hadis dengan menyebutkan sanadnya. Yang dimaksud dengan musnad adalah hadis yang disebut dan diterangkan seluruh sanadnya yang sampai kepada Nabi; pengertian lain tentang musnad adalah kitab-kitab hadis yang didalamnya dikoleksikan oleh penyusunnya, kumpulan hadis yang diriwayatkan oleh seorang sahabat dalam satu bab tertentu, kemudian diriwayatkan oleh sahabat yanglain dalam bab lainnya secara khusus. Noor Sulaiman, Antologi Ilmu Hadis, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), 15.
[2] Matn adalah materi berita yang berupa sabda, perbuatan atau ketetapan (taqrir) Nabi yang terletak setelah sanad terakhir.
[3] Suryadi, Agung Danarto, Al-Fatih Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis, (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2006), 101. Menurut Noor Sulaiman shighat isnad (lafadz-lafadz yang ada dalam sanad yang digunakan oleh para rowi pada saat menyampaikan hadis atau riwayat) ada delapan tingkatan. Lihat Noor Sulaiman, Antologi Ilmu Hadis,…..16-19.
[4] Mukharrij adalah orang yang menukil atau mencatat hadis pada kitabnya, Sedangkan kitab nukilannya disebut Mustakhraj.
[5]Adil merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong pemiliknya untuk senantiasa bertakwa dan memelihara harga diri, sehingga jiwa kita akan percaya kepada kejujurannya.
[6] Dhabit adalah keterjagaan seorang perowi ketika menerima hadis, memahaminya ketika mendengarnya, dan menghafalnya sejak menerima hadis sampai menyampaikannya kepada orang lain, yang termasuk dalam dhabih adalah hafalan dan tulisan.
[7] Suryadi, Agung Danarto, Al-Fatih Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis…. 103.
[8] CD Shoftware Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Shahih Bukhari, Kitab al-Hajj, bab Fadhila al-Haj al-Mabrur , no. 1424.
[9] CD Shoftware Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Shahih Muslim, Kitab al-Hajj, bab fi Fadhila al-Haj wa al-Umrah wa Yaum Arafah, no. 2404.
[10] CD Shoftware Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Sunan at-Tirmidzi, Kitab Haji Rasulullah, bab Ma Ja’a fi Tsaub li al-Haj wa al-Umrah no. 739
[11] CD Shoftware Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Sunan an-Nasa’I, Kitab Manasik al-Haj, bab Fadhila al-Haj,  no. 2580
[12] CD Shoftware Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Sunan Ibnu Majah, Kitab al-Manasik, bab Fadhila al-Haj wa Umrah no. 2880
[13] CD Shoftware Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Sunan ad-Darimi, Kitab al-Manasik, bab Fadhila al-Haj wa Umrah no. 1728
[14] CD Software Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Musnad Ahmad, Kitab Baqi Musnad Limukatstsirin, bab musnad abi hurairah no. 6839
[15] CD Software Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Musnad Ahmad, Kitab Baqi Musnad Limukatstsirin, bab musnad abi hurairah no. 7077
[16] CD Software Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Musnad Ahmad, Kitab Baqi Musnad Lisabq, bab musnad abi hurairah no. 8943
[17] CD Software Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Musnad Ahmad, Kitab Baqi Musnad Lisabq, bab musnad abi hurairah no. 9885
[18] CD Software Mausyu’ah hadis as-Syarif, Hadis Musnad Ahmad, Kitab Baqi Musnad Lisabq, bab musnad abi hurairah no. 10006
[19] Unsur-unsur kaidah minor periwayatan yang adil adalah beragama Islam, Mukallaf, melaksanakan ketentuan agama, dan memelihara muru’ah. Lihat Syuhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad Hadis: Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1988), 139.
[20] Salahuddin Ibn Ahmad al-Adlabi, Metodologi Kritik Matan Hadis, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004), 86.
[21] Suryadi, Agung Danarto, Al-Fatih Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis,..........116.
[22] Mutabi’ adalah periwayat yang berstatus pendukung pada periwayat yang bukan sahabat Nabi, sedangkan syahid adalah periwayat yang berstatus pendukung untuk sahabat Nabi.
[23]  Suryadi, Agung Danarto, Al-Fatih Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis,…… 117.
[24]  At-tahamul adalah mengambil atau menerima hadits dari seorang guru dengan salah satu cara tertentu. Al-Ada‘ berarti sebuah proses mengajarkan (meriwayatkan) hadits dari seorang guru kepada muridnya. Metode penerimaan sebuah hadits dan juga penyampaianya kembali ada delapan macam yaitu: Pertama, As-Sima’, yaitu guru membaca hadis didepan para muridnya. Bentuknya bisa membaca hafalan, membaca dari kitab, tanyajawab dan dikte. Kedua, Al-‘ardlu, yaitu seorang murid membaca hadis di depan guru. Dalam metode ini seorang guru dapat mengoreksi hadis yang dbaca oleh muridnya. Istilah yang dipakai adalah akhbarana. Ketiga, Al-Ijazah, yaitu pemberian ijin seorang guru kepada murid untuk meriwayatkan buku hadis tanpa membaca hadis tersebut satu demi satu. Istilah yang dipakai adalah an-ba-ana. Keempat,  Al-Munawalah, yaitu seorang guru memberi sebuah atau beberapa hadis tanpa menyuruh untuk meriwayatkannya. Istilah yang dipakai adalah an-ba-ana. Kelima,  Al-Kitabah, yaitu seorang guru menulis hadis untuk seseorang, hal ini mirip dengan metode ijazah. Keenam, I’lam as-Syaikh, yaitu pemberian informasi guru kepada murid bahwa hadis dalam kitab tertentu adalah hasil periwayatan yang diproleh dari seseorang tanpa menyebut namanya. Ketujuh, Al-Washiyah, yaitu guru mewasiatkan buku-buku hadis kepada muridnya sebelum meninggal. Kedelapan, Al-Wijadah, yaitu seseorang yang menemukan catatan hadis seseorang tanpa ada rekomendasi untuk meriwayatkannya. Lihat M. Noor Sulaiman, Antologi Ilmu Hadis,…….. 138, 148, Syuhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad Hadis,……60-71.
[25] Menurut Mayoritas ulama, metode ini berada pada peringkat yang paling tinggi, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa mendengar dari seorang guru disertai dengan menuliskan darinya lebih tinggi dari pada mendengar saja. Kata lain yang digunakan dalam metode ini misalnya   سَمِعْتُ,أخبرنا , حَدَّثَنَا dan lain-lain. Lihat M. Noor Sulaiman, Antologi Ilmu Hadis,……138, 145.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar